Virus Corona Indramayu

Protokol Kesehatan Ketat Jadi Kunci Sentra Kerupuk di Indramayu Bertahan di Tengah Pandemi

Ketua Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu (APKI), Murtasim mengatakan, walau aktivitas produksi terlihat normal.

handhika Rahman/Tribuncirebon.com
Para pengrajin saat memproduksi kerupuk di Sentra Industri Kerupuk di Blok Dukuh Kerupuk, Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Minggu (12/7/2020). 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Sentra industri kerupuk di Blok Dukuh Kerupuk, Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu tetap berjalan normal di tengah Pandemi Covid-19.
Hal ini tidak terlepas dari upaya para pengrajin kerupuk yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat dalam beraktivitas guna mencegah penularan virus corona.
Ketua Asosiasi Pengusaha Kerupuk Indramayu (APKI), Murtasim mengatakan, walau aktivitas produksi terlihat normal.
Namun, bukan tanpa kendala yang dihadapi para pengrajin kerupuk.
Sama seperti sektor industri lainnya, para pengrajin juga mengeluhkan kendala akibat merebaknya virus corona.
Khususnya dari sisi produksi kerupuk yang menurun hingga sebesar 25 persen.
Padahal setiap bulannya, para pengrajin di desa setempat mesti memasok 1.000 ton lebih kebutuhan kerupuk di pasaran se-Pulau Jawa bahkan luar Pulau Jawa.
"Di sini semua ada 35 pengrajin kerupuk, untuk perbulannya total sampai 1.000 ton lebih. Kalau perusahaan saya sendiri sebulannya bisa mencapai 50-60 ton tapi kemarin ada penurunan sampai 25 persen," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Minggu (12/7/2020).
Penurunan tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang membatasi aktivitas saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebelumnya.
Hal tersebut menjadi dilema bagi para pengrajin. Selain harus tetap memenuhi kebutuhan pasar, sedikitnya ada sebanyak 1.200 karyawan yang menggantungkan hidupnya bekerja di kawasan sentra kerupuk di desa setempat.
Menyikapi hal tersebut, para pengrajin pun berinisiatif secara mandiri merumuskan protokol kesehatan demi keberlangsungan usaha industri.
Protokol kesehatan itu tercantum dalam Surat Edaran Nomor : 027/IX/APKI/2020 yang ditandatangani per tanggal 1 April 2020. Di sana diatur beberapa imbauan yang harus dilaksanakan para pengrajin.
Meliputi, membiasakan diri berprilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan pabrik dengan melaksanakan penyemprotan kepada karyawan atau tamu yang masuk lingkungan pabrik, mesin produksi, dan lingkungan pabrik.
Selanjutnya, menyediakan sarana untuk cuci tangan, menjaga jarak saat bekerja (minimal 1-2 meter)  dan wajib mengenakan Alat Pelindung Diri (APD), menerapkan shif jam kerja untuk mengurangi kerumunan massa, serta setiap hari Rabu dan Kamis pabrik tidak produksi atau libur untuk pelaksanaan penyemprotan massal.
"Di saat libur perusahaan juga diimbau untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan kepada karyawannya masing-masing," ujarnya.
Selain di lingkungan pabrik, para pengrajin kerupuk juga menerapkan protokol kesehatan di desa setempat dengan menyediakan tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun di setiap blok rumah warga.
Berkat usaha tersebut, ia juga memastikan tidak ada karyawan yang sampai di rumahkan atau di-PHK.
Penyebaran virus corona di Desa Kenanga pun dinilai bisa dikendalikan dengan sangat baik.
Bahkan desa setempat dikategorikan sebagai zona hijau walau secara keseluruhan, Kabupaten Indramayu berada di zona kuning.
"Alhamdulillah sekarang karena sudah Adaptasi Kehidupan Baru (AKB) jadi sudah bangkit lagi," ujarnya.
Penulis: Handhika Rahman
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved