Breaking News:

Produksi Kopi

Kopi Jenis Arabika Tumbuh Subur di Kawasan Gunung Ciremai, Punya Cita Rasa Tinggi & Banyak Peminat

Tanaman kopi yang tumbuh di Kawasan lahan Gunung Ciremai memiliki cita rasa dan kualitas tinggi.

Kontributor Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Tanaman kopi di wilayah Blok Cibunar, Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Kuningan 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Tanaman kopi yang tumbuh di Kawasan lahan Gunung Ciremai memiliki cita rasa dan kualitas tinggi.
Hal itu muncul setelah banyak konsumen kopi datang dari berbagai daerah. 
“Kalau pembeli itu dari ada saja, seperti dari daerah Cirebon,Indramayu dan Kuningan sendiri. Mereka rata- rata untuk dijual di café-café mereka,” kata Didi saat ditemui Blok Cibunar, Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Minggu (12/7/2020).
Untuk sejarah tumbuh berkembang kopi hingga bisa dilakukan pemanen, singkat Didi megatakan, sekitar delapan tahun lalu bahwa bibit kopi ini dibawa dari daerah Aceh. 
“Kebetulan pada waktu itu, teman kirim dan saya coba tanam di sini hingga berkembang seperti begini,” ungkap Didi.
Kopi ini, kata dia, persis ditanam di ketinggian sekitar 1200 Mdpl (Meter Diatas Permukaan laut). 
“Iya tadi barusan kita kesana dan melihat pertumbuhannya bagaimana? Kebetulan pohon kopi yang kami tanam itu jenis Arabika,” kata Didi.
Diketahui belakangan ini, Didi yang terlihat semangat melakukan pengolahan biji kopi.
“Kita disini juga melakukan pengembangan dengan cara pembibitan. Kegiatan itu sebelumya, untuk memberikan kepuasaan terhadap konsumen untuk memiliki tanam kopi di lahan mereka sendiri,” katanya.
Proses pembibitan hingga jadi pohon kopi siap tanam, Didi menuturkan, ini dilakukan dari awal pemilihan bibit untuk dilakukan penyemaian terlebih dahulu.
“Saat disemai, butiran kopi jangan sampai pecah namun harus benar persis kecambah. Tujuannya, agar kualitas kopi terjaga dan memiliki cita rasa kuat,” katanya.
Masa penyemaian hingga jadi pohon kopi dengan ukuran mini, kata dia, ini dilakukan pemisahan melalui penanaman dengan media polybag.
“Sehingga ketika orang butuh atau mau membeli itu mudah. Nah, untuk harga jual bagaimana tinggi pendeknya pohon kopi, tapi untuk harga jual itu kisaran Rp 5-7 ribu per pohonnya,” katanya.
 Untuk pemeliharaan dalam proses pembibitan, kata dia, ini harus mendapat perhatian dan perawatan lebih cermat. 
“Minimal dengan membersihkan lahan pembibitan dari rumput liar dan selalu menyiram pohon, sebagai pasokan untuk penguatan akar ke tanah,” katanya.
Menyinggung soal proses produksi kopi, Didi menuturkan, ketika masa panen datang, pihaknya lakukan pemetikan dan membersihkannya dengan air.
Masa produksi mulai petik hingga bisa menikmati, kata dia, itu memakan waktu kurang lebih 20 hari.
“Sebab pengerjaan dan lokasi lahan kopi juga sangat jauh. Sehingga banyak memerlukan waktu,” katanya.
Kopi dipercaya berbuah dan bisa di panen, kata dia, biasanya itu berumur satu tahun sudah muncul buah. 
“Masa itu masa pohon belajar berbuah. Dari sana, kita berpacu untuk cepat panen. Karena ini bisa di makan luwak liar yang sering mengahbsan kopi disini,” katanya. 
Bebas dari kegiatan pemetikan, lanjut Didi, ini masuk tahap pengupasan secara manual atau menggunakan mesin.
“Selesai dari sana, bisa dilaukan penjemuran dan penundaan kopi dalam ruang kedap udara,” katanya. 
Selasai perlakuan dari itu semua, kata dia, komposisi kopi masuk dalam rosting (penggilingan, red).
“Untuk kemudian bisa dirasakan langsung atau dijual dengan kemasan dan berbagai ukuran,” katanya. (*)
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved