Breaking News:

Ini Protokol Kesehatan untuk Kurban di Jabar, Penyembelihan dan Pembagian Tak Boleh Lebih dari 4 Jam

sejak dari tangan penjual, protokol kesehatan harus sudah diterapkan. Misalnya, semua penjual harus mendapatkan rekomendasi tempat berjualan

Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Handhika Rahman
Sapi-sapi di peternakan Barokah Sapi di Jalan Cimanuk Timur, Dayung Indramayu, Jumat (10/7/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Jafar Ismail, mengatakan diperkirakan jumlah hewan kurban yang dijual di Jabar akan kembali meningkat pada tahun ini seperti tahun sebelumnya, walaupun di tengah pandemi Covid-19.

Jafar mengatakan tidak hanya penjualan hewan kurban secara konvensional seperti biasanya, kini banyak juga penjualan hewan kurban yang melalui online. Tahun kemarin, katanya, jumlah hewan kurban di Jabar mencapai 331 ribu ekor.

Jafar mengatakan dalam kondisi normal, jumlah hewan kurban selalu naik 30 persen dari tahun sebelumnya, setiap tahunnya. Di masa pandemi Covid-19 ini, pihaknya pun memprediksi masyarakat yang akan berkurban pun akan lebih banyak.

"Kemungkinan tahun ini lebih banyak juga ya. Karena kan banyak masyarakat yang tak melaksanakan ibadah haji tahun ini, jadi mereka berkurban di sini," ujar Jafar di Gedung Sate, Jumat (10/7).

Menurut Jafar, berdasarkan laporan kabupaten/kota, kebanyakan masyarakat menyukai kurban berupa domba, yakni hampir 62 persen. Kemudian, menyusul sapi, kambing, dan ada juga sedikit yang berkurban kerbau.

"Kami sudah menyiapkan dengan para peternak. Insyaallah bisa memenuhi permintaan masyarakat yang akan berkurban. Kami juga mendatangkan hewan ternak daei Lampung dan Jawa Tengah," kata Jafar.

Di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminta masyarakat menggelar pemotongan hewan kurban dengan memperhatikan protokol kesehatan. Kerumunan saat pemotongan dan pembagian, harus sangat dihindari.

Menurut Jafar, sejak dari tangan penjual, protokol kesehatan harus sudah diterapkan. Misalnya, semua penjual harus mendapatkan rekomendasi tempat berjualan dari kabupaten/kota.

Kemenag Minta Masjid Yang Tak Bisa Terapkan Protokol Kesehatan Tak Gelar Salat Idul Adha

BMKG Sebut Jakarta Harus Waspadai Gempa di Selatan Banten & Jawa Barat, Ini Alasannya

Misteri Mobil Pikap yang Tiba-tiba Ada di Hutan Cianjur Terungkap, Ternyata Begini Ceritanya

"Jadi, harus pakai protokol kesehatan baik penjual maupun pembeli. Kalau bisa pembelianya secara online. Jadi engga datang dan pembayaran dengan non tunai," katanya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved