Pelaku Usaha Kecap Bayu Asih Kuningan Manfaatkan Berjualan Via Online dan COD

Produksi kecap di Kuningan kembali menggeliat setelah salah seorang wiraswasta kreatif dan mencoba meneruskan para pendahulunya

Kontributor Tribun Cirebon/Ahmad Ripai
Eek Suparsa, Pelaku Usaha UMKM Kecap Bayu Asih, Kecamatan Kadugede, Kuningan, Jawa Barat 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Belum genap satu tahun, pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) Bayu Asih, konsisten memproduksi Kecap yang berada di Desa Bayuning, Kecamatan Kadugede, Kabuaten Kuningan. 
Saat ditemui di lokasi pembuatan kecap, Eek Suparsa mengemuka bahwa Kabupaten Kuningan sejak dahulu sebenarnya punya sentra produksi bumbu masak berupa kecap.
“Ketika itu berada di Desa Cikadu, Kecamatan Nusaherang. Namun produksi kecap di desa tersebut, lambat laun tak berdaya bersaing dengan produk yang sama dari luar Kuningan,” kata Eek kepada wartawan, Senin (6/7/2020).
Eek mengatakan, produksi kecap di Kuningan kembali menggeliat setelah salah seorang wiraswasta kreatif dan mencoba meneruskan para pendahulunya dalam pembuatan kecap asal Kuningan.
“Dengan membawa nama UMKM Bayu Asih, merek kecap yang dibuat kami, makin konsisten mengembangkan usaha yang bertujuan Kuningan bisa kembali memiliki sentra produk kecap yang sempat berjaya di jamannya,” kataya. 
Produksi Kecap Bayu Asih, kata dia, ini dimulai sejak Bulan November 2019 lalu dan kini telah punya empat varian dan harga yang bervariatif.
“Untuk varian pertama itu Kecap Bayu Asih dengan sebutan (Gold) dan untuk oleh-oleh khas Kuningan, ada Kecap Sunda (Silver) dan untuk pedagang menengah ada Kecap Aroma (Premium) untuk pedagang kecil dan ke-empat itu ada  Kecap Edoot, yang masih dicoba diproduksi untuk rumah tangga,” katanya. 
Masing – masing harga jual kecap dari beragam ukuran botol itu mulai dari seharga Rp 15 ribu, 18 ribu dan ukuran botol besar itu dijual sebesar Rp 35 ribu.
“Untuk rasa berani dibandingkan dengan produk sejenis lainnya dan bisa dicoba,” katanya.
Saat ini, kata dia, jumlah produksi Kecap Bayu Asih telah mendapat izin Dinas Kesehatan dan telah mendapatkan pelanggan dari kalangan pedagang di pasar tradisional dan rumah makan serta pedagang makanan.
“Selama ini penjualan juga memanfaat jaringan internet atau online. Terus kemudian, saat terjadi kecocokan harga itu dilakukan COD (Cash On Delivery, red),” ungkapnya.
Adapun varian rasa yang dibuatnya saat ini masih satu yakni kecap manis.
“Mengenai bahan-bahan pendukung pembuatan kecap itu diantarnya gula aren (Kawung, red), rempah-rempah dan kedelai yang masih di datangkan dari luar Kuningan. 
“Dengan metode pembuatan kecap yang masih manual dan tradisional, Pabrik Kecap rumahan sudah memiliki enam karyawan yang masih bersifat family,” katanya.
Mengenai usaha yang tengah di jalani Eek ini, ia berharap bisa menghidupkan kembali usaha pembuatan Kecap asli Kuningan dan mendapat dukungan dari semua kalangan.
“Selain sebagai lapak mata pencaharian, ini juga bertujuan melestarikan Kecap asli Kuningan dan bisa menyerap tenaga kerja dari masyarakat Kuningan ke depannya,” ungkapnya. (*)
 
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved