Breaking News:

Di Tengah Pandemi Covid-19, Kualitas Sungai Citarum Membaik, Pencemaran Masuk Level Ringan

Akan tetapi, kata Kang Emil, penurunan limbah industri di Sungai Citarum tidak disertai dengan penurunan limbah domestik.

(Humas Jabar)
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy S dan Pangdam III Siliwangi saat mengikuti Rapat Evaluasi Pelaksanaan Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum Tahun 2020, dan Perencanaan Tahun 2021 via video conference di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (18/6/20). 
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan kualitas air Sungai Citarum terus meningkat di tengah pandemi Covid-19. Saat ini, kata Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini, Sungai Citarum berada di tingkat tercemar ringan. 
"Kualitas air Citarum sudah melebihi dari target awal 2020, adalah cemar sedang, tapi per hari ini sudah cemar ringan di angka 40,67," kata Kang Emil kepada Menko Kemaritiman dan Investasi dalam Rapat Evaluasi Pelaksanaan Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum Tahun 2020, dan Perencanaan Tahun 2021 via video conference di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (18/6).

Menurut Kang Emil, peningkatan kualitas air Sungai Citarum tidak lepas dari peran Satgas Citarum Harum menangani limbah industri.
Penanganan limbah industri dinilai paling baik dan menghasilkan indeks kualitas pencemaran yang jauh sudah lebih membaik.

Kang Emil mengatakan ada 43 industri yang selama ini melanggar regulasi dan diproses hukum. Kejaksaan melaporkan sebanyak 7 perusahaan sudah inkrah dan dihukum denda Rp 100 juta sampai Rp 1 miliar. Kemudian, satu industri mengajukan banding dan 8 industri masih menjalani sidang. 
"Totalnya, ada 43 industri yang diproses, jadi penegakan hukum masih terus berjalan," katanya.
Akan tetapi, kata Kang Emil, penurunan limbah industri di Sungai Citarum tidak disertai dengan penurunan limbah domestik.
Satgas Citarum Harum sudah berinovasi dengan membangun pengolahan sampah domestik, seperti insinerator mini. Maka itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah ke Sungai Citarum.

"Kami menemukan industri sudah membaik, tapi limbah domestik masih bermasalah walaupun kita sudah ada berbagai inovasi termasuk insinerator mini. Jadi, masalah kita adalah domestic waste, kalau limbah industri sudah membaik," ucapnya.

Dalam rapat tersebut, Kang Emil melaporkan, pihaknya hingga kini sudah menanam 1,8 juta batang pohon di sekitar 1.100 hektare DAS Citarum.
Sejumlah perusahaan swasta pun telah berkomitmen akan menanam sekitar 10 juta batang pohon selama lima tahun.

Kemudian, pengerukan sedimentasi sudah mencapai 2 juta kubik. Kang Emil mengatakan, 17 lokasi sudah siap untuk pembangunan TPS Terpadu, namun 60 lokasi lainnya masih menunggu arahan dari Kementerian PUPR.

"Belum ada arahan, dulu janji Pak Menteri PUPR adalah mengizinkan sempadan untuk bisa dibangunkan IPAL dan oxbow, karena kami di lapangan mau menentukan titiknya kalau sudah ada surat izin dari Menteri PUPR kami akan pilih lokasi terbaik," katanya.

Kang Emil mengungkapkan, anggaran dalam penanganan Citarum Tahun 2020 direalokasi untuk penanganan COVID-19.

"Anggaran yang jadi Rp 1,8 triliun itu kemudian turun lagi karena adanya pandemi COVID-19. Maka, anggaran yang ada itu tinggal 14 persen dari total awal Rp 5,3 triliun. Jadi, bisa dibayangkan tanpa anggaran kami tidak bisa mengejar 100 persen target yang multidimensi karena anggarannya hanya 14 persen," ucapnya. (Sam)
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved