Belajar dari Rumah di TVRI

Strategi Perang Jenderal Sudirman Melawan Belanda,Soal Jawab Belajar dari Rumah di TVRI SD Kelas 4-6

Jenderal Sudirman menggunakan strategi perang gerilya. Dengan strategi ini, Jenderal Sudirman dan pasukannya bergerak secara sembunyi-sembunyi di hut

Penulis: Machmud Mubarok | Editor: Machmud Mubarok
kodam14hasanuddin-tniad.mil.id via GridHot.ID
Jenderal Sudirman kala memimpin perang Gerilya terhadap Agresi Militer I dan II Belanda. 

TRIBUNCIREBON.COM - Peserta didik Kelas 4-6 SD akan mempelajari sejarah perjuangan
Jenderal Sudirman pada program Belajar dari Rumah di TVRI, Kamis (14/5/2020).

Tayangan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat.

Pembelajaran dalam Belajar dari Rumah ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi, tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Berikut ini jadwal jam tayang Belajar dari Rumah di TVRI edisi Kamis 14 Mei 2020.

08.00 - 08.30 WIB Jalan Sesama: Hal-Hal yang Kusuka (untuk siswa-siswi PAUD dan sederajat)

09.00 - 09.30 WIB Khan Academy: Bilangan (untuk siswa-siswi SD Kelas 1-3 dan sederajat)

09.00 - 09.30 WIB Perjuangan Jenderal Sudirman (untuk siswa-siswi SD Kelas 4-6 dan sederajat)

09.30 - 10.00 WIB Matematika: Garis dan Sudut (untuk siswa-siswi SMP dan sederajat)

10.00 - 10.30 WIB Matematika: Transformasi Geometri Rotasi (untuk siswa-siswi SMA/SMK dan sederajat)

10.30 - 11.00 WIB Keluarga Indonesia: Menjadi Orang Tua Hebat untuk Anak Usia SD (untuk orang tua dan guru)

21.30 - 23.30 WIB Kumpulan Film Pendek: 

- Mata Batin

- Polah

- Elinah

- Topo Pendem

- Ilalang Ingin

- Hilang

- Waktu Siang

- Ruah

Niat Bayar Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga, Lengkap Dengan Tulisan Arab dan Latin

UPDATE Kasus Covid-19 di Indonesia, Rabu 13 Mei 2020: Bertambah 689 Kasus Baru, Total 15.438 Kasus

Sejarah Hidup Jenderal Sudirman

Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia.

Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Sudirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Saat di sekolah menengah, Sudirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Sudirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Sudirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Sudirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat.

Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Sudirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Sudirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Sudirman lahir, menjadi kepala staff.

Sembari menunggu pengangkatan, Sudirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Sudirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember.

Selama tiga tahun berikutnya, Sudirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia.

Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.

Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Sudirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Sudirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Sudirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu.

Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949.

Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Sudirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pertanyaan dalam program Belajar dari Rumah di TVRI:

1. Apa yang bisa kita teladani dari perjuangan Jenderal Sudirman?

2. Bagaimana strategi perang Jenderal Sudirman ketika melawan Belanda?

3. Tuliskan beberapa koleksi jejak-jejak sejarah Jenderal Sudirman di museum Vredeburg yang menjadi saksi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia!

Jawaban:

1.  Kita bisa meneladani jiwa patriotisme dan cinta tanah air yang dimiliki Jenderal Sudirman.

Meski sedang sakit dan tak memiliki kekuatan fisik, namun berkat hati dan nurani yang terjaga beliau tetap mampu berjuang melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia.

2.  Jenderal Sudirman menggunakan strategi perang gerilya.

Dengan strategi ini, Jenderal Sudirman dan pasukannya bergerak secara sembunyi-sembunyi di hutan.

Selain itu, Jenderal Sudirman dan pasukannya juga berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika memiliki kesempatan, mereka akan menyerang Belanda secara tiba-tiba.

Para pejuang melakukan penyerangan ke pos-pos yang dijaga Belanda.

Gerilya yang dilakukan pejuang Indonesia merupakan strategi perang untuk memecah konsentrasi pasukan Belanda.

3.  - Keris Kiai Slamet

- Kendil Dalung

- Sarung Keris

- Sepatu

- Meja dan Kursi Tamu

- Tempat Tidur

- Perlengkapan Dapur

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved