Breaking News:

PSBB Jabar

Gubernur Jabar Ridwan Kamil Berharap Sukses PSBB Bandung Raya dan Bodebek Diikuti PSBB Jabar

Khusus kegiatan perekonomian, Gubernur mempersilakan bupati/wali kota mengatur sendiri mana saja sektor yang boleh beroperasi.

Editor: Machmud Mubarok
(Humas Jabar)
Gubernur Jabar Ridwan Kamil memimpin rakor via videoconference bersama para bupati/wali kota terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Provinsi di Jabar, dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (29/4/20). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berharap keberhasilan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kawasan Bodebek dan Bandung Raya menjadi acuan bagi 17 kabupaten/ kota lainnya di Jabar yang akan ikut menerapkan PSBB di skala provinsi, Rabu (6/5).

"Kepada bupati dan wali kota yang besok wilayahnya akan menggelar PSBB, yang sudah dilakukan di Bodebek dan Bandung Raya agar menjadi panduan," ujar Ridwan Kamil saat memberikan arahan secara virtual kepada 27 bupati/wali kota, di Gedung Pakuan Bandung, Selasa (5/5).

Dalam pertemuan tersebut beberapa kepala daerah di Bodebek dan Bandung Raya berbagi pengalaman kepada 17 kepala daerah tentang teknis menerapkan PSBB agar optimal. Khusus kegiatan perekonomian, Gubernur mempersilakan bupati/wali kota mengatur sendiri mana saja sektor yang boleh beroperasi.

Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, mencontohkan, Kota Bekasi dan Kabupaten Pangandaran akan berbeda urgensinya pada sektor ekonomi.

"Silakan diatur saja kegiatan ekonomi mana saja yang boleh buka karena misalnya Kota Bekasi dengan Kabupaten Pangandaran itu akan berbeda urgensinya," ujarnya.

Terpenting menurutnya, dalam PSBB pergerakan manusia sesuai standar WHO harus di angka 30 persen.

"Jadi PSBB ini dianggap berhasil secara standar WHO kalau pergerakan manusia hanya 30 persen,” kata Kang Emil.

Detik-detik Pemakaman Didi Kempot, Tangis Histeris Sang Istri dan Anak Antarkan Sang Musisi

Zodiak Besok, Rabu 6 Mei 2020: Leo Harus Mulai Menabung Nih, Gemini Ketemu Orang yang Istimewa

Mimpi Aneh Soeharto Sebelum Meninggal, Beranikan Diri Cerita ke Tutut, tapi Malah Ditertawakan

Keberhasilan PSBB lainnya yaitu perlambatan laju persebaran COVID-19. Kang Emil menuturkan, dalam teori PSBB salah satu yang harus diukur adalah indikator laju persebaran yang dihitung dengan angka reproduksi dasar (Ro).

"Jadi kalau diibaratkan mobil mah sebelum PSBB kecepatannya 100 km/ jam setelah PSBB menurun jadi 60 km/ jam," tuturnya.

Penurunan Ro ini terbukti di PSBB Bodebek dan Bandung Raya yang asalnya ada di angka 1,27 turun menjadi 1,07.

"Angka satu itu dianggap angka yang wajar satu pasien menulari satu orang tapi kalau lebih dari satu berarti potensi penularannya bisa banyak. Semoga setelah 14 hari PSBB Provinsi kecepatan penularan turun dari angka satu," harapnya.

Dari data yang didapatnya hingga hari ini di PSBB Bodebek dan Bandung Raya kasus positif COVID-19 oleh pemudik sudah hampir tidak ada. Sebelumnya laporan kasus bawaan dari luar (imported case) di Ciamis, Kuningan, Sumedang, datang dari pemudik dari zona merah. Kemudian pasien yang dirawat juga menurun.

"Tanggal 22 April mulai ada peningkatan jumlah pasien tapi setelah dua minggu PSBB berjalan terjadi penurunan dan puncaknya di 29 April ada penurunan 100 orang. Sekarang rumah sakit kita makin kosong ini berita baik juga buat dokter dan tenaga kesehatan bahwa kinerja mereka luar biasa," katanya.

Tak hanya itu, tingkat kesembuhan juga hampir dua kali lipat dan angka meninggal turun yang biasanya tujuh orang per hari menjadi empat orang dalam enam hari terakhir. 

Tekan Penularan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat sekaligus Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar, Berli Hamdani, mengatakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Tingkat Provinsi penting untuk menyetop penularan COVID-19, terutama imported case alias penularan dari luar lokasi atau impor.

Adapun PSBB Tingkat Provinsi, atau disebut PSBB Jabar, mulai berlaku pada Rabu, 6 Mei 2020 pukul 00:00 WIB hingga Selasa, 19 Mei 2020 mendatang.

"PSBB Jabar ini momen penting, di mana mudik sudah dilarang, kegiatan sudah berkurang, ditambah dengan situasi puasa orang beribadah di rumah saja, semakin menyukseskan PSBB," kata Berli di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (5/5).

Saat ini, katanya, kasus positif Covid-19 yang ada di Jabar sifatnya penularan lokal dan dari klaster yang dari awal sudah diidentifikasi.

Adapun PSBB bakal menjadi hal baru bagi 17 kabupaten/kota di luar lima daerah Bodebek (Bogor-Depok-Bekasi) dan lima daerah Bandung Raya yang sudah menerapkan PSBB.

Berli mengatakan, 17 kabupaten/kota itu bisa menerapkan PSBB secara parsial maupun penuh di wilayahnya. Selain itu, kepala daerah diberi kewenangan oleh gubernur untuk menindaklanjuti peraturan gubernur terkait PSBB Jabar.

"Ini bukan untuk menimbulkan perbedaan atau kebingungan, tapi memberikan kewenangan secara proporsional antara provinsi dan kabupaten kota," ujar Berli.

Berli pun menegaskan bahwa pihaknya terus menambah pelaksanaan tes usap (swab) metode Polymerase Chain Reaction (PCR), teranyar terhadap penumpang KRL.

"Sementara untuk rapid test, sampai saat ini Jabar melakukan hampir 100 ribu rapid test dan dari total itu yang positif 237," tutur Berli.

"Dari yang sudah dilakukan tersebut, ini upaya yang penting dalam pelaksanaan PSBB agar paling tidak bisa membatasi penularan terutama dari luar Jabar atau imported case. Secara umum PSBB mampu menekan penularan atau penyebaran COVID-19" ucapnya. (Sam)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved