Breaking News:

Belajar dari Rumah di TVRI

Jadwal Belajar dari Rumah di TVRI Sabtu 2 Mei 2020, Ada Profil Putri Ayudya dan Cak Durasim

Namun materi kebudayaan tetap hadir dalam program yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

istimewa
Program Belajar dari Rumah di TVRI untuk peserta didik tingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA sederajat. 

TRIBUNCIREBON.COM - Program Belajar dari Rumah di TVRI yang ditayangkan pada akhir pekan berbeda dengan hari biasa. Tidak ada materi mata pelajaran, lebih banyak menayangkan hiburan.

Namun materi kebudayaan tetap hadir dalam program yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Berikut ini jadwal jam tayang Belajar dari Rumah di TRVRI edisi Jumat 1 Mei 2020.

08.00 - 08.30 WIB Cerita Sabtu Pagi: Anak Seribu Pulau

09.00 - 09.30 WIB Gelar Wicara Asli Indonesia: Wabah dan Gerakan Masyarakat

10.00 - 10.30 WIB Cerita Indonesia: Cak Durasim

10.30 - 11.00 WIB Ragam Indonesia: - Wayang Orang Barata ‘Doa Anak Panggung’ - Profil Putri Ayudya - Profil Nia Dinata - Profil Adinia Wirasti - Keris Madura Menggapai Asa Pentas Dunia

19.00 - 20.35 WIB Tayangan Spesial: Hari Pendidikan Nasional 2020 “Belajar dari COVID-19”

20.35 - 21.00 WIB Cerita Nusantara: Ki Hajar Dewantara

Cak Durasim

Pada sesi Cerita Indonesia, akan membahas sosok Cak Durasim. Siapakah Cak Durasim ini?

Seperti ditulis Wikipedia, Cak Durasim (lahir di Jombang, Jawa Timur) adalah seniman teater berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai pemrakarsa perkumpulan ludruk di Surabaya. Cak Durasim telah meletakkan dasar berkesenian bagi para seniman tradisional di Indonesia. Atas gagasan dan pengaruhnya terhadap dunia kesenian bagi generasi penerus, namanya dijadikan nama gedung dan festival di Jawa Timur

Cak Durasim bernama asli Gondo Durasim. Ia lahir di Jombang, Jawa Timur. Cak Durasim merupakan seniman ludruk yang memprakasai perkumpulan ludruk di Surabaya. Pada tahun 1937, ia mempopulerkan cerita-cerita legenda Soerabaja dalam bentuk drama. Dalam setiap pertunjukan ludruk yang digelarnya sudah termasuk satu kesatuan dari tari remo yang menampilkan kepahlawanan, juga dagelan sebagai sisipan, dan baru kemudian masuk ke inti cerita.

Patung Cak Durasim
Patung Cak Durasim (Wikipedia)

Selain di Jombang, ia juga pernah mulai membentuk kelompok ludruk di Surabaya. Hal ini karena dalam pembentukannya ludruk tersebut disponsori oleh Tom alias Dr. Soetomo, tokoh pejuang perintis kemerdekaan yang terkenal di awal ke-20. Kedatangan tentara Jepang tidak membuat kecil nyalinya. Bahkan pada tahun 1942 ketika tentara Jepang menguasai negeri ini, melalui ludruk sebagai media siar, ia membangkitkan semangat juang arek-arek Surabaya dalam mengkritik pemerintah penjajah, di dalam setiap pementasan drama ludruknya. Selain menceritakan legenda Surabaya ia juga mementaskan cerita perjuangan-perjuangan lokal masyarakat Jawa Timur. Dan, gendhing Jula-Juli Surabaya melengkapkan kritik yang disampaikan pemerintah penjajah.[5]

Pada puncaknya waktu pentas di Keputran Kejambon Surabaya ia melantunkan kidungan yang sangat populer yang berbunyi: "Pegupon omahe doro, urip melu Nippon tambah sengsoro". Akibat sebaris kalimat itulah ia ditangkap, disiksa oleh tentara Jepang dan akhirnya mereka menyeretnya ke penjara. Ia meninggal dunia setahun kemudian, dan dimakamkan di Makam Islam Tembok. Berkat keberanian itu, namanya dikenang sepanjang masa sebagai seniman serta pahlawan.

Atas kesungguhan, gagasan, perjuangan, dan jasa-jasanya sosok Cak Durasim dihadirkan kembali dalam berbagai ekspresi antara lain untuk nama gedung pertunjukan yang berdiri di kompleks Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Patung dan parikan fenomenal karyanya pun diikutsertakan dalam konstruksi bangunan tersebut. Gedung Cak Durasim tak hanya berfungsi sebagai latar pertunjukkan teater, tetapi juga untuk pementasan puisi, seni musik, seni tari, seni rupa, dan sebagainya. Sastrawan W. S. Rendra pernah menggelar pementasan spektakulernya di gedung itu. Namanya juga diabadikan sebagai nama Festival yang juga di gelar di kompleks TBJT, Festival Seni Cak Durasim. Penghargaan seni tradisional pun menggunakan namanya. Sampai saat ini, namanya kerap disebut-sebut dalam pembahasan-pembahasan seni. Bahkan mahasiswa-mahasiswa ITB selalu merujuk padanya bila memperbincangkan hal mengenai ludruk.

Profil Putri Ayudya

Pada acara Ragam Indonesia, pukul 10.30-11.00 akan menayangkan profil sejumlah pesohor. Salah satunya adalah aktris Putri Ayudya (lahir di Jakarta, 20 Mei 1988). Putri adalah seorang aktris berkebangsaan Indonesia. Selain itu ia juga seorang pencinta alam dan menjadi presenter acara Jejak Petualang. Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 2010 ini juga terpilih menjadi Puteri Intelegensia Indonesia 2011 pada pemilihan Puteri Indonesia 2011 dan finalis Wajah Femina 2008. Setelah menyelesaikan beasiswa Puteri Indonesia, ia terdaftar sebagai mahasiswi Magister Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Ia juga aktif di berbagai kegiatan sosial dan seni. Saat ini ia menjadi duta Taruna Siaga Bencana (Tagana) di bawah arahan Kemensos. Mulai tahun 2017 ini, Putri melanjutkan kariernya sebagai aktor dan produser.

Putri Ayudya mengenalkan film terbarunya berjudul 'Down Swan' di Redaksi Warta Kota, Jalan Palmerah Barat, Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).
Putri Ayudya mengenalkan film terbarunya berjudul 'Down Swan' di Redaksi Warta Kota, Jalan Palmerah Barat, Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019). (Warta Kota/Arie Puji Waluyo)

Selama menjadi presenter jalan-jalan Putri baru mendaki 2 puncak di Himalaya dan 1 puncak di tanah air yaitu Gunung Rinjani. Namun selama 3 tahun perjalanan tersebut, ia telah menghasilkan beberapa artikel yang dimuat pada beberapa majalah nasional. Saat mendaki Gunung Himalaya tersebut ia tengah mengikuti kelompok Kartini Petualang dalam kampanye Global Warming.

Sebagai seorang aktris, Putri sudah akrab dengan dunia teater sejak SMA, bahkan saat kuliah ia mendirikan Teater Psikologi (Teko) pada 18 Oktober 2007, bersama kawan-kawan angkatan 2006 dan 2007 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat ini ia memproduseri beberapa pementasan Teater dari kelompok Yajugaya. Di samping itu Putri berkenalan dengan dunia film setelah ditemukan Aji N.A., penggagas Komunitas Peqho Teater. Ia bermain dalam garapan maestro Garin Nugroho. Selanjutnya Putri terlibat dalam beberapa produksi film Indonesia dengan genre yang bervariasi. Mendatang, Putri bermain dalam film Wage yang juga menandai kembalinya sutradara peraih penghargaan John De Rantau.

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved