Dampak Covid-19, Ketua Komisi III DPRD Kuningan Yakin Hunian Tetap Terealisasi bagi Warga Huntara

Hasil dari pembahasan yang saat ini mandek, kata Dede, tidak sedikit warga korban longsor dan pergerakan tanah di Desa Pinara memilih tinggal kembali

Tangkapan Layar Video
Hunian sementara warga korban longsor di Kuningan. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN – Warga hunian sementara (Huntara) di Des Ciniru tetap akan diperjuangkan untuk mendapatkan hunian tetap. Hanya saat ini, pembahasan tentang hal tesebut terkendala munculnya Pandemi Covid-19.

“Masalah warga di hunian sementara memang sedang kami bahas, namun adanya pandemi covid 19 saat ini sedikit tertunda,” ungkap Ketua Komisi III DPRD Kunintan, Dede Sudrajat, saat di temui di Fedung DPRD Kuningan, Selasa (7/04/2020).

Dede mengatakan, dalam rencana pembahasan akan dibuatkan hunian tetap (Huntap, red) untuk warga hunian semetara (Huntara, red) yang berada di Desa Ciniru saat ini.

“Kemudian untuk lokasi Huntap, kalau gak salah di Desa Rambatan untuk sejumlah 400 kepala keluarga,” ungkapnya.

Politis F-PKS ini mengatakan, jauh sebelumnya pembahasan sudah dilakukan secara intensif, baik dengan SKPD (Satuan Kerja Perangkat daerah, red) maupun dengan Kepala Desa Pinara itu sendiri.

“Dengan kepala desa pun kami telah mewanti –wanti dan selalu mengingatkan, untuk melakukan bedol desa, karena desanya itu masuk zona merah dan rawan bencana alam,” ungkap Dede.

Zodiak Cinta Besok, Kamis 9 April 2020: Aries Romantis, Capricorn Jangan Terlalu Berharap

Dua Sejoli Digerebek Sedang Memadu Kasih di Kamar Kos, Alasannya Mengisolasi Diri Cegah Corona

Pemkab Cirebon Imbau Kafe Hanya Layani Pemesanan Delivery Order dan Take Away

Hasil dari pembahasan yang saat ini mandek, kata Dede, tidak sedikit warga korban longsor dan pergerakan tanah di Desa Pinara memilih tinggal kembali ke desanya. “Namun sebagian juga, ada warga Pinara yang tinggal di huntara tidak mau kembali,” katanya.

Diketahui sebelumnya, tokoh waarga Huntara Mardiana mengatakan, sejumlah warga sebetulnya sudah tidak betah di lokasi huntara seperti ini.

“Kami ingin pemerintah memberikan tempat tinggal layak,” katanya.

Hal serupa juga dikatakan Ny. Heni, salah seorang ibu rumah tangga di lokasi Huntara setempat. Ia mengaku pasrah dengan minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap korban longsor dua tahun silam. “Kami sudah sudah dua tahun lebih hidup di Huntara. Jujur sudah tidak betah pak,” ujarnya.

Selain lingkungan panas saat musim kemarau, menurut Heni, daerah ini suka becek kalau musim hujan seperti ini.

Kemudian, kata Heni, untuk aktivitas melakukan bersih – bersih, saar ini masih dipusatkan satu titik. “Kamar mandi dan toilet terpisah dari tempat tinggal. Tuh kamar mandi umum di sana,” ungkapnya. (*)

Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved