PDP Corona Jadi Tontonan Warga, Wali Kota Tasikmalaya Minta IGD RSUD Soekardjo Disterilkan

Nantinya, petugas tim gugus tugas dari BPBD, TNI dan Polri akan bersiaga di pos jaga serta memeriksa setiap orang yang hendak masuk

(KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA)
Dua PDP virus corona yang hendak di karantina di Ruang Isolasi RSUD Soekardjo Tasikmalaya malah sempat dijadikan tontonan warga pada Jumat (20/3/2020) kemarin. 

Seandainya jumlah pasien Covid-19 sudah lebih dari 300 orang, katanya, skenario selanjutnya adalah penggunaan gedung lain di lingkungan RS Hasan Sadikin untuk perawatan pasien Covid-19.

"Kita semua berdoa wabah selesai dan tidak terjadi hal yang terburuk. Ini tentu butuh dukungan semua, agar bisa melewati masa rumit dengan penanganan bersama," ujarnya.

Setiap skenario, katanya, diiringi penyesuaian zona merah, kuning, dan hijau, demi menjaga keamanan pasien laonnya di rumah sakit tersebut. Zona merah hanya bisa diakses dokter dan perawat, zona kuning hanya bisa diakses petugas laboratorium dan petugas medis lainnya, zona hijau bisa diakses petugas administrasi.

RS Hasan Sadikin pun, katanya, sudah sangat mengurangi jumlah pengantar dan penunggu pasien, jadi hanya satu orang per pasien. Besuk atau kegiatan menjenguk pun sudah tidak diperbolehkan lagi. 

 Doa Qunut Nazilah, MUI Imbau Umat Islam Baca Tersebut, Agar Terhindar dari Musibah Virus Corona

 Terlalu Menganggap Enteng Virus Corona, Menkes Terawan Diminta Mundur dari Kursi Menteri Jokowi

Telaah Dulu Anjuran Jokowi

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja mengatakan, hingga Kamis, (19/3) sore, terdapat 26 orang yang dinyatakan positif COVID-19 di Jawa Barat.

Dari data 26 tersebut, tiga orang di antaranya sudah sembuh dari virus SARS-CoV-2, sementara dua di antaranya meninggal akibat virus asal Wuhan, Cina itu.

"Kemudian PDP (Pasien Dalam Pengawasan) totalnya 132, yang selesai 49 orang, yang masih dalam pengawasan totalnya 83 orang," kata Setiawan saat menggelar konferensi pers terkait perkembangan COVID-19 di Jawa Barat di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (19/3).

Setiawan mengatakan ODP (Orang Dalam Pemantauan) di Jawa Barat total 1.412 orang, selesai melakukan isolasi mandiri 594 orang, dan masih dalam pemantauan 816 orang.

Adapun menanggapi anjuran Presiden Republik Indonesia Joko Widodo untuk menggelar rapid test dengan cakupan lebih besar, Setiawan berujar bahwa Pemerintah Provinsi Jabar akan mencoba menelaah kemungkinan tersebut.

"Kemarin sudah dengar semua, bahwa pergeseran anggaran dilakukan dan kami memang merencanakan membeli beberapa peralatan, termasuk test kit, PCR (Polymerase Chain Reaction), dan alat-alat pelindung diri lainnya. Termasuk juga bantuan rumah sakit terkait ruang isolasi," ucap Setiawan.

Rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan sebagai leading sector dan juga BKAD sudah dilakukan untuk menyiapkan anggaran itu. Dirinya berharap upaya di Jabar ini bisa lancar dan bisa memyediakan peralatan secepatnya. Diperkirakan akan menyediakan 10 ribu test kit.

Meski begitu, Setiawan menegaskan bahwa yang akan  dites adalah ODP dan orang yang didata dari hasil tracing.

"Pengawasan atau testing secara proaktif terus dilakukan, itu pun ada kriterianya karena keterbatasan anggaran dan alat, kami pilah mana yang diprioritaskan untuk tes di tahap pertama ini," katanya.

Dalam konferensi pers tersebut, Setiawan juga mengatakan, pihaknya telah mengatur jika skenario terburuk penyebaran COVID-19 ini terus meningkat di Jabar. Selain disokong oleh bantuan 90 hingga 900 bed siap pakai, Pemprov Jabar juga sudah merencanakan akan mengubah Gedung Kemuning RSHS Bandung khusus untuk pasien COVID-19.

"RSHS akan convert, yang saat ini Gedung Kemuning untuk pasien TB, akan memindahkan pasien TB tersebut ke rumah sakit lain dan satu gedung itu akan digunakan pasien COVID-19. Kami sudah menyiapkan berbagai skenario, termasuk apabila lonjakan tinggi sekali dan harus masuk (rumah sakit) mana saja," ucapnya.

Terkait agenda salat Jumat pada Jumat (20/3), Setiawan berujar bahwa Sekretariat Daerah Provinsi Jabar telah mengeluarkan panduan protokol sholat Jumat.

"Intinya, bahwa sebaiknya situasi jumatan yang sifatnya homogen, artinya yang kita tahu persis orang-orangnya, itu bisa dilakukan tetap dengan protokol COVID-19," ujarnya.

"Kedua, apabila sudah ada yang terinfeksi di sana, sebaiknya tidak dilakukan di ruangan tersebut. Lalu penyelenggaraannya, dibatasi jarak sesuai protokol COVID-19. Ceramah tidak terlalu panjang, harus disiapkan hand sanitizer, dianjurkan bawa sajadah sendiri. Yang pasti protokol COVID-19 harus selalu dipatuhi," imbaunya.

Setiawan pun memastikan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jabar bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar termasuk MUI untuk memberikan protokol kesehatan terhadap pertemuan-pertemuan yang akan dilaksanakan.

Sekda pun mengatakan salah satu ASN Pemprov Jabar telah dirawat di RS Hasan Sadikin terkait Covid-19 dan sudah masuk ruang isolasi.

"Salah satutnya barangkali ASN, saat ini sudah dirawat di RSHS. Tentu saja klusternya harus segera dicek, kantornya pun disemprot disinfektan, sudah dikordinaskikan dengan dinas kesehatan. Sudah masuk di ruang isolasi," ujarnya.

Sekda mengatakan pihaknya pun tengah melakukan tracing melacak alamat warga Jabar yang mengikuti tabligh akbar di Malaysia. Sejauh ini yang sudah terlacak diprioritaskan untuk testing proaktif, termasuk yang ikut seminar di Bogor. (Sam)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Buntut PDP Corona Jadi Tontonan, IGD RSUD Soekardjo Disterilkan dari Kerumunan Orang", https://regional.kompas.com/read/2020/03/21/12061151/buntut-pdp-corona-jadi-tontonan-igd-rsud-soekardjo-disterilkan-dari?page=2.
Penulis : Kontributor Tasikmalaya, Irwan Nugraha
Editor : Teuku Muhammad Valdy Arief

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved