Breaking News:

Virus Corona

Seorang Dokter Terbaring Kelelahan di Kasur Rumah Sakit Pasien Virus Corona, Viral di Medsos

Kini, foto seorang dokter di Wuchang, Provinsi Hubei, China yang terbaring lengkap dengan pakaian hamzatnya menjadi viral di media sosial.

Editor: Mumu Mujahidin
China Media Group
Kisah dibalik foto seorang dokter di Wuchang yang berbaring dengan pakaian pelindung yang lengkap di kamar penuh dengan kasur kosong yang viral di media sosial. 

Wawancara tersebut dirilis pada Selasa (10/3/2020), tetapi kemudian dihapus dari WeChat karena memantik kemarahan warganet yang mengunggah ulang publikasi diagnosanya.

Virus Corona Mewabah, Anies Baswedan Tutup Sejumlah Tempat Wisata di Jakarta, Ini Daftar Lengkapnya

Satu Pasien Dalam Pemantauan yang Dirawat Intensif di Ruang Isolasi RSUD Indramayu Negatif Corona

Sang dokter menceritakan, semua berawal pada 30 Desember 2019, saat dia melihat banyak pasien dengan gejala mirip flu tapi tak bisa ditangani dengan pengobatan biasa.

Dia kemudian mendapatkan hasil laboratorium yang membuatnya bergidik dengan mencantumkan sebuah kalimat 'SARS Coronavirus".

Seketika ia langsung melingkari kata SARS itu dan mengambil foto hasil laboratorium tersebut.

Ia pun segera mengirimkannya kepada rekan sesama dokter yang bekerja di rumah sakit lain.

Bahkan ia sempat memanggil koleganya dari departemen pernapasan untuk memastikan diagnosa tersebut.

"Saya katakan salah satu pasiennya terinfeksi virus mirip SARS," kisahnya.

Ilustrasi komunikasi tenaga medis kepada pasien positif virus corona (Xinhua via SCMP)

Foto tersebut kemudian beredar cepat di kalangan tenaga medis, bahkan dibagikan oleh Li Wenliang yang meninggal akibat virus mematikan itu pada 6 Februari 2020, seperti dikutip dari The Guardian.

Malam harinya, ia mengaku mendapatkan pesan dari rumah sakit untuk tidak menyebarluaskan informasi penyakit misterius itu.

Sebab, kabar yang belum diketahui kebenarannya itu bisa menyebabkan kepanikan di masyarakat.

Selang dua hari setelah mendapatkan peringatan kecil itu, Ai Fen dipanggil komite disiplin rumah sakit tempatnya bekerja.

Ia mendapat teguran dari kepala komite inspeksi disiplin karena dianggap "menyebarkan rumor" dan "merusak stabilitas".

Wanita Ini Punya Lebih Dari Dua Suami, Saat Anak Pertamanya Lahir Bingung Siapa Ayah Anaknya

Ai Fen pun mengaku putus asa untuk meneruskan peringatan dini itu.

"Pikiran saya kosong. Dia tidak menegur karena saya tak bekerja keras. Saya dianggap sudah merusak masa depan Wuhan. Saya putus asa," keluhnya.

Setelah itu, setiap staf dilarang untuk saling membagikan gambar maupun pesan yang berisi informasi mengenai virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu.

Ai Fen mengaku tidak bisa mengusahakan apa-apa, selain meminta para stafnya untuk mengenakan pakaian pelindung dan masker meski tidak diinstruksikan oleh rumah sakit.

"Kami menyaksikan lebih banyak lagi pasien datang kemari, di saat radius penyebarannya sudah semakin luas," terang Ai Fen.

Ia mengaku curiga saat mulai melihat pasien yang tidak punya kaitan dan kontak langsung dengan Pasar Seafood Huanan, tempat yang diyakini menjadi lokasi asal wabah.

Satu Pasien di Cirebon Positif Corona, Begini Tanggapan Nasrudin Azis Soal Libur Sekolah & Wisatawan

Ai Fen pun berkeyakinan bahwa virus itu memasuki level transmisi antar manusia.

Meski begitu, keyakinan diagnosanya tidak digubris otoritas China.

Sehari setelah Beijing mengumumkan adanya transmisi lokal tepatnya pada 21 Januari 2020, pasien yang dirawat sudah mencapai 1.523 per hari atau tiga kali lipat dari volume normal.

Selama wabah, ia mengalami peristiwa demi peristiwa yang membuat hatinya pilu.

Misalnya saat ia melihat seorang pria lanjut usia yang tatapannya kosong.

Sebab, dokter memberikannya sertifikat kematian bahwa putranya yang berusia 32 tahun sudah meninggal karena virus corona.

Kondisi Menhub Budi Karya Sumadi Membaik, Menkes Telusuri Kemungkinan Penularan ke Pejabat Lain

Atau seorang ayah yang susah payah untuk keluar dari mobil di halaman rumah sakit.

Saat Ai Fen mendatanginya, ternyata dia sudah tiada.

"Jika saja saya tahu (wabah ini bakal menyebar), saya akan terus menyebarkannya kepada semua orang meski bakal mendapat peringatan," sesalnya.

Dia menolak disebut sebagai whistleblower, atau orang yang menyebarkan sebuah isu.

"Saya hanya membantu menyediakan peluit (whistle)," tandasnya.

(TribunPalu.com/Tribunnews.com/Kompas.com)

Sumber: Tribun Palu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved