Breaking News:

Sang Istri Histeris Memergoki Suami Memperdaya Anak Kandungnya Sendiri dalam Kamar di Siang Bolong

Setelah kepergok, suami berinisial AS (45) itu pun lari terbirit-birit ke kebun karet di belakang rumah dan hilang secara misterius.

Editor: Mumu Mujahidin
Istimewa
Ilustrasi wanita berhubungan suami istri 

Selanjutnya pelaku menyentuh korban hingga pemerkosaan terjadi.

"Perbuatan tersebut diulang oleh tersangka hingga empat kali," kata Yogie saat dihubungi, Jumat (14/2/2020).

Yogie mengatakan, pemerkosaan tersebut dilakukan saat rumah dalam keadaan sepi.

Pada akhirnya, korban melaporkan perbuatan Ayahnya kepada sang Ibu.

Lalu, kasus tersebut dilaporkan ke polisi pada 3 Februari 2020.

Tak lama kemudian, pelaku ditangkap di kediamannya.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pelaku terancam pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. 

Peran Penting Seorang Ibu 

Menanggapi maraknya kasus pemerkosaan anak oleh ayah kandung, Maharani Kusumaningrum, M PSi (29) Psikolog Klinis dan Trainer kota Semarang mengungkap pentingnya peran seorang ibu. 

"Ibu seharusnya menjadi orang yang paling peka terhadap perubahan sang anak, apalagi pemerkosaannya berlanjut," tutur Maharani kepada Tribunjateng.com (grup SURYAMALANG.COM), Minggu (19/11/2017).

Menurut Maharani, ada beberapa kondisi yang membuat anak tidak berani menceritakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Maharani Kusumaningrum
Maharani Kusumaningrum (wilujeng puspita dewi)

Ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anak, dalam kasus tersebut justru telah menghancurkan hidup anaknya sendiri.

Pada titik tersebut, anak telah kehilangan figure seorang ayah.

Rasa tidak percaya terhadap figure seorang ibu juga bisa muncul pada titik tersebut.

Terlebih, dalam lingkungan keluarga, ibu tidak memiliki dominasi yang banyak.

"Ibu yang menganggur, ibu yang tidak dekat dengan anak, ibu yang tidak peka terhadap perubahan, ibu yang takut pada ayah, menjadi alasan anak tak mau bercerita," tutur psikolog cantik lulusan Unika Soegijapranata tersebut.

Kepada Tribunjateng.com, pemilik Smile Consultants yang terletak di Jalan Drupadi 2A, Plombokan, Semarang, membeberkan dua hal penting yang harus ditanam seorang ibu agar tidak lalai mengetahui adanya kasus pelecehan berlanjut.

"Kedekatan, kepekaan dan kepercayaan. Itu kuncinya," ujarnya memberikan tips.

Maharani menjelaskan, sesibuk apapun kegiatan seorang ibu, harus menyempatkan waktu untuk mengobrol dengan anak.

Saat anak usia dini, secerewet apapun perkataan anak dan sesibuk apapun aktivitas seorang ibu harus tetap menanggapi.

Dengan begitu anak akan tumbuh dan meyakini  bahwa sosok ibu adalah seorang pendengar yang baik.

Jangan sepelekan perkataan anak apapun itu.

Kedua, perubahan sekecil apapun yang terjadi kepada anak, ibu harus mawas dan tanggap.

"Tidak mungkin tidak ada perubahan. Pasti ada, sekecil apapun itu. Entah menjadi pendiam, murung, tidak mau makan, atau di rumah selalu menghindar ketika papasan dengan ayahnya. Dan jika ada perubahan demikian, yang dilakukan adalah mengambil hatinya, bukan memarahinya," pesannya.

Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Teriakan Histeris Istri saat Masuk Kamar, Suami Perdaya Anak Kandung, Lari ke Kebun Secara Misterius

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved