Bupati Ciamis Ultimatum Babe Ridwan Saidi, 2x24 Jam Tak Datang ke Ciamis Bakal Dilaporkan ke Polisi

Menyikapi kejadian tersebut Bupati Herdiat meminta warga Tatar Galuh Ciamis untuk bersabar, jangan sampai bersikap berlebihan, apalagi sampai brutal.

Bupati Ciamis Ultimatum Babe Ridwan Saidi, 2x24 Jam Tak Datang ke Ciamis Bakal Dilaporkan ke Polisi
TribunJabar.id/Andri M Dani
Warga Ciamis menggelar unjuk rasa di Alun-alun Ciamis memprotes pernyataan sejarawan Ridwan Saidi yang menyebut Galuh berarti brutal dan tidak ada kerajaan di Ciamis, Jumat (14/2/2020). 

Rektor Unigal Dr H Yat Rospia Brata yang juga dosen sejarah tersebut meminta babeh Ridwan Saidi untuk membuktikan bahwa di Ciamis tidak ada kerajaan. Padahal di Ciamis banyak peninggalan kerajaan berupa situs maupun prasasti.

“Tiap jengkal tanah di Ciamis adalah situs, banyak peninggalan sejarah,” ungkap Yat.

Lebih tersinggung lagi, bila disebut galuh itu artinya brutal. “Kalau disebut galuh itu artinya brutal. Jadi Unigal ini Universitas Brutal dong.  Jelas 10.000 mahasiswa dan 30.000 alumni tidak bisa menerimanya. Galuh itu sudah melekat menjadi nama di Ciamis dan daerah lainnya. Sebut saja Stadion Galuh, juga ada Brigif Galuh. Banyak lagi yang lain,” katanya.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Pasca Sarjana Unigal tersebut ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap; meminta babeh Ridwan Saidi datang ke Ciamis dalam waktu paling lambat 2 x 24 jam untuk membuktikan omongannya. Bila  tidak datang ke Ciamis, babeh Ridwan Saidi akan  segera dilaporkan ke pihak berwajib.

Pertemuan tersebut juga mendesak DPRD dan Pemkab Ciamis untuk bersikap, ketika nama besar Galuh dilecehkan, ketika harga diri Ciamis dijatuhkan.

Babeh Ridwan Saidi yang juga bintang ILC tersebut ketika dihubungi wartawan di Ciamis via telepon, Kamis (13/2) malam, menyatakan  siap datang ke Ciamis bila diundang oleh Bupati Ciamis. Dia berharap masyarakat dan pemerintahan setempat untuk tidak terlalu berlebihan menyikapi soal kerajaaan yang sulit dibuktikan tersebut.

Karangan Bunga Ucapan Duka Cita Berjejer di Pemakaman Terakhir Himendra Wargahadibrata di Cirebon

Polisi Jakarta Bongkar Praktik Aborsi Ilegal, Hampir 1.000 Janin Digugurkan, Pelaku Raup Rp 6,6 Mi

Mendiang Himendra Wargahadibrata Punya Darah Cirebon, Almarhumah Ibunda Kerabat Keraton Kasepuhan

Beliau malah menyarankan Pemkab Ciamis untuk lebih fokus pada temuan batu susun Batu Rompe  di Desa Sukaraharja Kecamatan Lumbung yang sempat viral tersebut.

Menurut Babeh Ridwan Saidi, batu susun Batu Rompe tersebut merupakan monumen luar biasa dari abad ke-5  bahwa di Ciamis pernah ada peradaban yang disebut Pariangan. Pariangan itu artinya persawahan. Pada abad ke-5 di Ciamis ada daerah yang sudah maju pertaniannya. “Ciamis harus bangga. Batu susun itu monumen yang luar biasa,” ungkap babeh Ridwan Saidi .

Babeh Ridwan Saidi juga menyebutkan kata Galuh dalam Bahasa Armenia artinya cukup jelek untuk diungkap. Beda dengan Sunda yang artinya cemerlang. Penamaan Sunda Galuh  yang sekarang banyak dikenal itu katanya keliru karena galuh artinya brutal. (*)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved