Breaking News:

Bocah 7 Tahun Dianiaya Orang Tua

Bocah 7 Tahun di Pangalengan Diduga Jadi Korban Kekerasan Orang Tua, Sekujur Tubuhnya Penuh Luka

Kondisi korban sekarang tidak bisa apa-apa, jangankan berjalan, ngomong saja sudah tidak bisa, duduk tak bisa,

Editor: Machmud Mubarok
ISTIMEWA
MRA, seorang bocah berusia 7 tahun di Pangalengan, mengalami luka di sekujur tubuh sehingga tidak bisa bergerak. Ia diduga menjadi korban kekerasan orang tuanya. 

Perpisahan antara orang tuanya ini seolah menjadi petaka bagi korban.

Mulai dari penganiayaan, perlakuan tak wajar hingga tak diperbolehkan mengenyam pendidikan dialami bocah berusia tujuh tahun ini.

Hal ini pun memicu amarah bagi warga sekitar.

 Inilah Segudang Manfaat Saffron Bagi Kesehatan, Mengobati Diabetes, Kanker, Hingga Cocok untuk Diet

 Peringatan Dini BMKG: Beberapa Wilayah di Jabar Bakal Diguyur Hujan Petir, Jakarta Hujan Lebat

 Hari Terakhir Libur Sekolah, Jangan Lewatkan Film-Film Spesial Liburan di Beberapa Stasiun Televisi

Keluarga berharap, kasus ini segera menjadi perhatian bagi penegak hukum.

Kini korban diamankan pihak keluarga disalah satu tempat di Kota Medan.

Kapolres Tapanuli Utara, AKBP Horas Silaen mengatakan kasus penganiayaan dan penyiksaan yang dialami korban AHMR akan segera ditindaklanjuti.

"Polres Tapanuli Utara dipastikan memberikan atensi untuk segera menindaklanjuti perkara ini," kata Horas.

"Saya pastikan jajaran Satkrimum Polres Tapanuli Utara khususnya UNIT PPPA dan komitmen Polres Taput akan bekerja keras untuk menangani kasus kekerasan dan penganiayaan ini" tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, bahwa peristiwa memilukan diawal tahun 2020 ini telah mengundang reaksi masyarakat Tapanuli Utara.

Khususnya masyarakat di Siborongborong, sangat mengecam tindakan ini.

 ZODIAK Cinta dan Karir, Taurus, Mencoba Hal Romantis Atau Seharian Spa Bersama Pasangan Bisa Dicoba

 Jelang Siang Nanti Kabupaten Indramayu Diprediksi Bakal Diguyur Hujan Ringan, Namun Malam Berawan

 Mau Bayar Pajak Kendaraan? Akhir Pekan Ini Samsat Keliling dan Gendong Indramayu Ada di Lokasi Ini

"Betapa nasib anak-anak di Indonesia dilingkungan dekatnya pun tidak bebas dari kekerasan," kata Arist, Sabtu (4/1/2020).

Dijelaskan Arist, harus ada keadilan dan kepentingan terbaik untuk anak (the best interest of child). Tidak ada alasan bagi siapapun pelaku kekerasan yang dapat ditoleransi dan kebal hukum.

Sekalipun orangtua kandung sebagai pelaku maupun orang disekitar korban yang mengetahui penyiksaan itu.

Namun, tidak memberikan pertolongan termasuk orang yang ada disekitar anak dan keluarga dekat.

Polres Tapanuli Utara dipastikan akan segera menangkap dan menahan pelaku serta menjeratnya pelaku.

Dengan ketentuan UU RI Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun pidana penjara.

"Jika orangtua kandung terbukti menjadi pelaku, maka orangtua dapat dijerat dengan ketentuan pasal berlapis, yakni ditambahkan sepertiga dari pidana pokoknya," tegas Arist.

Lebih lanjut, untuk memulihkan trauma berat korban yang saat ini diberi rasa nyaman di rumah salah satu keluarga korban di Medan.

Komnas Perlindungan Anak akan segera meminta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Propinsi Sumatera Utara.

"Kita akan meminta bantuan LPS Sumut, untuk memberikan dampingan pemulihan traumatis korban," pungkas Arist. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved