Breaking News:

TKI Indramayu Meninggal di Jepang

SBMI Indramayu Pertanyakan TKI Ilegal yang Meninggal di Jepang Tidak Bisa Dipulangkan

Ia meninggal dunia akibat sakit kanker otak pada Jumat (10/1/2020) sekitar pukul 09.00 waktu Jepang.

ISTIMEWA
Residence Card Japan milik Ayo Sunaryo (34) yang meninggal akibat penyakit kanker otak saat bekerja di Jepang. 

Hal tersebut juga dipertegas setelah SBMI Cabang Indramayu berkonsultasi dengan ​Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri.

Hasilnya menyatakan, TKI ilegal tetap bisa dipulangkan ke tanah air karena sudah menjadi kewajiban negara.

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat Sebut Garis Keturunan Raja Keraton Agung Sejagat Tak Jelas

Detik-detik Kades & Selingkuhannya Digerebek & Gagal Bercinta di Kebun Sawit, Pernah 4 Kali Berzina

Lemak Perut Membandel? Minum Minuman Ini Sebelum Tidur, Menyehatkan dan Bakar Lemak Lebih Cepat

Selain itu, juwarih mempertanyakan dasar hukum dari uang dalam jumlah besar yang diminta oknum tersebut kepada pihak keluarga untuk biaya pemulangan Ayo Sunaryo.

"Uang sebesar Rp 250 juta itu untuk apa? Kita juga harus mempertanyakan kalau misal dia ilegal, uang mengenai pajak itu tidak sampai segitu," lanjut Juwarih.

SBMI Cabang Indramayu menduga, nominal uang sebesar Rp 250-300 juta yang diminta kepada pihak keluarga bukan berasal dari pemerintah melainkan dari pihak swasta.

"Ya asumsi saya seperti itu, karena itu sebenarnya bisa dipulangkan, saya juga tidak tahu apa alasannya teman-teman di Jepang itu yang ngurus jenazah mengatakan tidak bisa dipulangkan, itu dasarnya apa," ujarnya.

Dalam hal ini, SBMI Cabang Indramayu menyayangkan adanya kejadian tersebut, padahal pihak keluarga sudah diberi pengertian sebelumnya terkait prosedural pemulangan jenazah.

Sementara itu, Juwarih menekankan agar setiap warga negara Indonesia yang hendak bekerja ke luar negeri sebaiknya melalui jalur resmi.

Hal ini penting diingat untuk mengurangi risiko-risiko yang bisa saja terjadi menimpa para pekerja di negara penempatan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Permasalahan ini memang tidak ada habisnya. Kembali lagi alasanya itu karena urusan perut, dan lain-lain, tapi kan kalau ada risiko kembali lagi ke mereka, mereka yang harus menanggung," ujarnya. (*)

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved