Kunker Anggota DPR RI ke Indramayu

20.000 Ton Beras di Gudang Penyimpanan Beras Dibuang, Salah Satunya Akibat Tersendat Penyaluran

Pembuangan ribuan beras itu dikarenakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mengalami perubahan kualitas atau mutu dan tidak laku dijual.

20.000 Ton Beras di Gudang Penyimpanan Beras Dibuang, Salah Satunya Akibat Tersendat Penyaluran
Tribuncirebon.com/ Handhika Rahman
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron saat mengecek persediaan beras di Gudang Bulog Pekandangan Jalan Soekarno-Hatta Indramayu, Minggu (5/1/2020). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Sudah ada sebanyak 20.000 ton beras di gudang penyimpanan beras mengalami disposal atau pembuangan.

Pembuangan ribuan beras itu dikarenakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mengalami perubahan kualitas atau mutu dan tidak laku dijual.

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, fenomena beras disposal ini tidak terlepas dari terlalu lamanya beras yang disimpan di gudang akibat penyaluran CBP tersendat.

"Ada kasus 20.000 ton disposal, ini akan terjadi lagi nanti kedepan, mungkin akan bertambah jumlahnya," ujar dia kepada Tribuncirebon.com saat mengecek persediaan beras di Gudang Bulog Pekandangan Jalan Soekarno-Hatta Indramayu, Minggu (5/1/2020).

BREAKING NEWS Anggota DPR RI Kunker ke Gudang Bulog Pekandangan Indramayu, Beras Numpuk di Gudang

KISAH Armanah Ibu Tunanetra Lolos Dari Longsor, Digendong Anak 3 Jam Hingga Tercebur Lumpur

Pernyataan Prabowo dan Menlu Retno Marsudi Terkait Polemik Laut Natuna, Tolak Kleim Sepihak China

Menurut Herman Khaeron, tersendatnya penyaluran beras merupakan dampak dari hadirnya program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang mengantikan program beras sejahtera (Rastra) atau program beras bagi warga miskin (Raskin).

Herman Khaeron menjelaskan, Perum Bulog diminta menyerap beras dari petani dalam skala besar sebagai bentuk tugas dan kewajiban.

Namun, di sisi lain dalam program BPNT itu justru tidak sepenuhnya beras yang disalurkan memakai beras Bulog, tidak seperti pada saat program Rastra/Raskin dahulu.

Terlebih sekarang ini banyak e-warung yang menjadi outlet Perum Bulog juga dipasok beras oleh pihak swasta.

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron saat melakukan kunjungan kerja di Kantor Bulog Cabang Indramayu, Minggu (5/1/2020).
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron saat melakukan kunjungan kerja di Kantor Bulog Cabang Indramayu, Minggu (5/1/2020). (Tribuncirebon.com/ Handhika Rahman)

Atau dengan kata lain, ada perbandingan yang timpang antara pemasukan dan pengeluaran beras Bulog, sehingga menyebabkan beras-beras itu menumpuk dan Bulog kehilangan outlet-outlet penyaluran beras.

Halaman
1234
Penulis: Handhika Rahman
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved