Jabar Region

Berkas Perkara Ustaz Rahmat Baequni Terkait Kasus Penyebaran Hoaks Sudah di Kejaksaan Tinggi Jabar

Kata dia, Rahmat diduga melakukan tindak pidana menyebarkan kabar tidak pasti atau kabar berlebihan atau tidak lengkap.

Berkas Perkara Ustaz Rahmat Baequni Terkait Kasus Penyebaran Hoaks Sudah di Kejaksaan Tinggi Jabar
Tribun Jabar/Mega Nugraha
Ustaz Rahmat Baequni memberikan pernyataan saat konferensi pers di Mapolda Jabar, Jumat (21/6/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG -‎ Berkas perkara Ustaz Rahmat Baequni terkait kasus penyebaran informasi bohong, sudah di kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

Kasi Penkum Kejati Jabar Abdul Muis Ali, menerangkan bahwa Rahmat Baequni disangkakan melakukan tindak pidana sebagaimana diatur di Pasal 14 ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946.

"Tahap penanganan perkaranya masih dalam pra penuntutan. Kasusnya masih berproses," kata Abdul Muis Ali di Jalan LLRE Martadinata Bandung, Rabu (4/12).

Menurutnya, Rahmat Baequni diduga melakukan tindak pidana menyebarkan kabar tidak pasti atau kabar berlebihan atau tidak lengkap.

"Yang bersangkutan sebagai terlapor, menyampaikan ceramah yang dimuat berdurasi 2 menit 19 detik dengan menulis narasi pada 17 Juni 2019," ujar Abdul Muis Ali.

Adapun narasi tersebut yaitu,

"Ciri kesesatan‎ yang saat ini terjadi dan saya yakin mereka bukan NII lagi, tapi mereka adalah sekelompok orang yang dimanfaatkan intelejen. Teman saya sudah ada yang menjadi korban, strateginya adalah untuk memanfaatkan umat Islam yang dulu mereka lakukan terhadap eks muridnya Kartosuwiryo, yang mereka gunakan karena efektif. Intelejen tidak punya kerjaan kalau tidak begini Densus 88 Anti Teror, bekerja ga, kalau tidak ada terorisme? Ya nganggur, tidak ada pemasukan kalau tidak ada terorisme, maka diciptakanlah terorisme tadi,"

Ustaz Rahmat Baequni Jadi Tersangka Kasus Ujaran Kebencian, Begini Tanggapan Ridwan Kamil

Selain kasus melibatkan Rahmat Baequni, Abdul Muis Ali juga mengatakan ada beberapa kasus yang mengundang perhatian terkait Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta hoaks pada 2019.

"Ada tersangka Abdul Jalil. Sudah persidangan di PN Kuningan. Dituntut 12 bulan penjara karena kasus menyebut polisi nyamar angkut C1 di Kuningan Jawa Barat, pura-pura mau pasang spanduk," kata Abdul Muis.

Kemudian menjerat dani M Ramdani sudah diputus Pengadilan Negeri Tasikmalaya‎ dengan hukuman 6 bulan. Kasus itu terkait menyebarkan informasi bohong soal polisi memaksa membuka kotak suara dihadang oleh ormas.

Polisi Pulangkan Ustaz Rahmat Baequni, Tidak Ditahan, tapi Proses Hukum untuk Kasusnya Terus Lanjut

Kasus penyebaran informasi bohong soal polisi bermata sipit disebutkan tenaga kerja asing asal China juga diusut. Tersangkanya bernama Yudi Hadiansyah Asari asal Majalengka.

"Kasusnya masih pra penuntutan," kata dia. Satu lagi, kasus menjerat Iwan Adi Sucipto asal Kabupaten Cirebon. Kasus itu terkait informasi bohong bernada adu domba antara TNI dan Polri.

"Kasusnya sudah tahap II di Kejari Cirebon," pungkas Abdul Muis Ali.

Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved