Berita Indramayu

Petani Garam di Indramayu Minta Pemerintah Lakukan Hal Ini Untuk Atasi Harga Garam Yang Anjlok

Petani garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu minta pemerintah segera pecahkan permasalahan harga garam yang anjlok

Petani Garam di Indramayu Minta Pemerintah Lakukan Hal Ini Untuk Atasi Harga Garam Yang Anjlok
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Petani saat menggarap lahan pertanian garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Minggu (24/11/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Petani garam di Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu minta pemerintah segera pecahkan permasalahan harga garam yang terus turun sejak dua tahun terakhir.

Seorang petani garam, Imam Bukhori (36) menyarankan, pemerintah bisa menampung atau mengdrop garam-garam milik petani.

Remaja Ini Tewas Ditikam Gara-gara Pelesetkan Lirik Lagu Begadang Rhoma Irama

"Ya mungkin pemerintah bisa berupaya seperti itu, yang pasti kami cuma berharap harga garam bisa naik," ucap dia kepada Tribuncirebon.com, Minggu (24/11/2019).

Ia menjelaskan, anjloknya harga garam karena persediaan garam di pasaran melimpah sehingga membuat harga menjadi anjlok.

 Imam Bukhori pun mengatakan, tengkulak yang menentukan harga garam tidak bisa berbuat banyak.

Pasalnya, harga garam di pasaran sangat murah sehingga berimbas pada murahnya harga jual dari petani.

Goo Hara Eks KARA Dikabarkan Meninggal Dunia, Bunuh Diri Seperti Sang Sahabat Sulli?

Sementara itu, seorang tengkulak garam, Jamaludin (36) menambahkan, pihaknya menentukan harga garam tergantung harga di pasaran.

Selain itu, tengkulak juga tidak bisa masuk ke perusahaan industri untuk menjual hasil produksi garam petani.

"Kita gak bisa mas ke industri-industri karena garam import masih masuk," ucapnya.

Oleh karena itu, ia juga berharap ada solusi yang bisa ditawarkan oleh pemerintah agar harga garam bisa segera stabil.

Jamaludin menyarankan, Pemkab Indramayu untuk mengusahakan perusahaan yang mampu menyerap produksi garam lokal dalam jumlah banyak bisa berdiri di Kabupaten Indramayu.

VIDEO Highlight - Persib Bandung Gagal Amankan Tiga Poin Lawan Barito Putera, Skor Akhir 0-0

Hal itu sejalan dengan wacana kawasan industri yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu.

"Perlu dibangunnya pabrik ini yang bisa memproduksi atau yang bisa menampung garam-garam, agar minimalnya masyarakat Indramayu tidak perlu lagi beli garam kemana-mana, garam dari petani kita saja," ucapnya.

Harga Garam Anjlok

- Anjloknya harga garam di Kabupaten Indramayu sama halnya dengan bekerja rodi.

Hal tersebut disampaikan salah seorang petani garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Imam Bukhori (36) saat ditemui Tribuncirebon.com, Minggu (24/11/2019).

 VIDEO Highlight - Persib Bandung Gagal Amankan Tiga Poin Lawan Barito Putera, Skor Akhir 0-0

Dirinya mengatakan, bertani garam memerlukan modal tenaga dan operational yang tidak sedikit.

Hal ini tidak sebanding dengan harga garam yang terus mengalami penurun hingga cuma dihargai Rp 150-250 per kilogramnya.

"Kalau berbicara jauhnya kan negara kita itu negara bahari, negara maritim, padahal banyak petani kita memproduksi garam tapi nyatanya katanya garam import masih masuk," ujar dia.

Ia menilai, turunnya harga di tahun 2019 adalah yang terburuk dalam sejarah.

Petani garam saat mengolah garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Selasa (17/9/2019).
Petani garam saat mengolah garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada sekitar tahun 2009. Saat itu harga garam jatuh dan menyentuh harga Rp 200 per kilogram.

"Tapi saat itu kan masih garam tanah beda dengan sekarang," ucapnya.

Saat itu diceritakan Imam Bukhori, pemerintah melakukan upaya dengan mengalihkan metode produksi garam tanah menjadi metode geomembran atau plastik.

Harga pun bisa berangsur naik seiiring dengan meningkatnya kualitas.

 AHOK Disebut Bencana & Kotor Jadi Komut Pertamina, Ali Ngabalin Debat Panas Dengan Marwan Batubara

"Kalau sekarang belum ada upaya dari pemerintah mas," ucapnya.

Ia berharap, ada upaya yang segera dilakukan pemerintah mengingat sudah dua tahun terakhir harga garam terus mengalami penurunan.

6 Lahan Garam Terbengkalai

 Lahan-lahan para petani garam di Desa/Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu dibiarkan terbengkalai dan rusak.

Seorang petani garam, Prima (29) mengatakan, ada sekitar 6 hektare lahan yang ditinggal begitu saja oleh para pemiliknya.

"Saya juga tidak kenal milik siapa, tapi dengar-dengarnya itu karena harga garam yang terus anjlok," ujar dia saat ditemui di sela-sela aktivitas menggarap garam, Minggu (24/11/2019).

 VIRAL, 2 Bunga Bangkai Tumbuh di Balai Kebun Manoko Lembang, 1 Belum Mekar & Satunya Mekar Sempurna

Pantauan Tribuncirebon.com di lokasi, lahan seluas 6 hektare itu tampak terbengkalai dan terkesan usang.

Garam-garam pada lahan yang seharusnya siap dipanen justru sekarang kondisinya rusak.

Garam-garam itu dibiarkan tanpa diolah hingga mengering dan menyatu dengan tanah maupun alas plastik.

Sementara kondisi lumbung penyimpanan garam sementara yang berada di sisi lahan kondisinya juga tidak kalah rusak.

Banyak bagian dari lumbung itu hancur dan berserakan di sekitaran lahan.

"Saya tidak tahu pastinya karena apa, tapi mulai ditinggalkan semenjak harga anjlok lagi, tapi ada juga yang bilang karena air mengering, kemungkinan sih karena harga anjlok," ucapnya.

Adapun selama menyusuri puluhan hektare lahan garam yang berada di Desa Krangkeng, sangat sulit ditemukan adanya aktivitas para petani garam.

Lahan garam di Krangkeng Indramayu dibiarkan terbengkalai dan rusak
Lahan garam di Krangkeng Indramayu dibiarkan terbengkalai dan rusak (Tribun Cirebon.com/Handhika Rahman)

Banyak dari lahan-lahan garam di Desa setempat memilih berhenti memproduksi garam.

 Miris, Harga Garam Semakin Anjlok dari Rp 2500 di 2017, Kini Rp 150 di 2019 per Kilogramnya

 MANFAAT Berkumur Dengan Air Garam Ampuh Untuk Sembuhkan Batuk Berdahak, Ini Penjelasannya

 Panen Garam Hingga 30 Ton, Petani Garam Indramayu Justru Ingin Cepat Musim Penghujan, Ini Alasannya

Kini lahan-lahan yang biasanya dipenuhi aktivitas para petani itu hanya menyisakan lahan kosong yang kering beralas tanah.

Sementara plastik atau geomembran yang biasa digunakan petani sebagai alas produksi garam sudah dicopot para pemiliknya. (*)

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved