VIDEO Peziarah Dilarang Memotret di Makam Jenderal Besar HM Soeharto di Astana Giribangun, Kenapa?

Sebelum berziarah, TribunCirebon.com mendaftarkan diri dulu ke bagian pendaftaran untuk memperoleh surat izin berziarah.

TribunCirebon.com/Machmud Mubarok
Rombongan peziarah berdoa di pelataran cungkup Argosari sebelum memasuki ruang utama makam HM Soeharto dan Tien Soeharto di Astana Giribangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (9/11/2019). 

Laporan Wartawan TribunCirebon.com, Machmud Mubarok
TRIBUNCIREBON.COM, KARANGANYAR - Momen peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiulawal yang jatuh pada Sabtu 9 November 2019 dimanfaatkan sejumlah warga untuk berziarah ke sejumlah makam-makam wali, kiai, dan pengagung negara.

Satu di antaranya yang ramai dikunjungi adalah makam peristirahatan Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto di Astana Giribangun, Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, sekitar 35 km di sebelah timur kota Surakarta.

Kompleks permakaman ini menurut Wikipedia berada di lereng Gunung Lawu, di ketinggian
660 meter di atas permukaan laut. Sementara di bagian Astana Giribangun, terdapat Astana Mangadeg. Astana Mangadeg merupakan kompleks permakaman para raja-raja penguasa Mangkunegaran. Di sinilah dimakamkan Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa, Mangkunegara II, dan Mangkunegara III.

TONTON VIDEO DI SINI:

Astana Giri Bangun dibangun pada tahun 1974 oleh Yayasan Mangadeg Surakarta, dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan sisa jenazah Soemaharjomo (ayah Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.

Detik-detik Meninggalnya Soeharto, Punya Permintaan Terakhir, Ingin Sholat Tahajud, lalu Susul Tien

Makam yang luas itu terdiri dari beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian utama yang disebut Cungkup Argosari yang berada di dalam ruangan tengah seluas 81 meter persegi dengan dilindungi cungkup berupa rumah bentuk joglo gaya Surakarta beratap sirap. Dinding rumah terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta pula.

Di ruangan ini hanya direncanakan untuk lima makam. Saat ini paling barat adalah makam Siti Hartini, di tengah terdapat makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) dan paling timur adalah makam Ibu Tien Soeharto. Tepat di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat makam Soeharto.

Masih di bagian Argosari, tepatnya di emperan cungkup seluas 243 meter persegi, terdapat tempat yang direncanakan untuk makam 12 badan. Di beranda cungkup seluas 405 meter persegi terdapat areal untuk 48 badan. Yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah penasihat, pengurus harian serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg yang mengelola pemakaman tersebut. Termasuk yang berhak dimakamkan di tempat itu adalah pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono beserta istri.

Krisjiana Baharuddin Ungkap Istrinya Siti Badriah Sering Keluar Darah dan Nangis Setiap Bulannya

Bagian yang berada di luar lokasi utama adalah Cungkup Argokembang seluas 567 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 116 badan. Yang dapat dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus pleno dan seksi Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang dianggap berjasa kepada yayasan yang mengajukan permohonan untuk dimakamkan di astana tersebut.

Paling luar adalah Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi. Tempat ini tersedia tempat bagi 156 badan. Seperti halnya Cungkup Argo Kembang, yang berhak dimakamkan di lokasi itu adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran lainnya yang mengajukan permohonan.

Saat TribunCireboncom berkunjung ke sana, Sabtu (9/11/2019), suasana peziarah cukup ramai. Beberapa saat setelah azan Zuhur, hujan lebat mengguyur kawasan Astana Giribangun. Menurut warga setempat, itu hujan deras pertama yang turun di daerah Astana Giribangun.

Suasananya memang teduh, karena kawasan itu dipenuhi pohon-pohon besar dan rindang. Ojek payung langsung muncul menawarkan payung kepada pengunjung saat hujan turun. Satu payung cukup bayar Rp 5.000.

Sebelum berziarah, TribunCirebon.com mendaftarkan diri dulu ke bagian pendaftaran untuk memperoleh surat izin berziarah. Syaratnya cukup menunjukkan KTP saja dan biaya administrasi seikhlasnya.

Dari pelataran parkir, TribunCirebon.com lalu menuju ke pintu gerbang Astana Giribangun. Pintu gerbang dijaga oleh dua orang satpam. Setelah menanjak, lalu tiba di pintu masuk sebelah timur. Namun pintu ini ditutup. Peziarah harus masuk lewat pintu selatan. Sebelumnya melewati jalan menurun, peziarah tiba di undakan tangga gerbang selatan.

Anggota Polisi Ini Mengaku Didatangi Jin Berwujud Biksu, Diminta Selamatkan Puing Candi di Indramayu

Di sini peziarah membuka alas khaki lalu masuk ke pelataran bangunan cungkup Argosari. Sambil menunggu giliran masuk ke bagian utama, yaitu makam Soeharto, Bu Tien, bapak dan ibu Ibu Tien, serta kakak Bu Tien, peziarah bisa berdoa secara berombongan dulu.

Di pelataran ini terdapat beberapa makam di sayap kanan dan kiri. Saat hendak masuk ke ruang inti cungkup, petugas meminta para peziarah untuk tidak memotret atau mengambil gambar apapun di dalam. Semula TribunCirebon.com mengira, larangan itu karena memang dikeramatkan dan mungkin pernah ada kejadian yang menimpa peziarah yang nekat mengambil gambar.

Ternyata bukan itu alasan pelarangan. Pihak pengelola sudah menyiapkan beberapa orang fotografer untuk memotret para peziarah di dekat makam Pak Harto dan Bu Tien. Foto-foto itu bisa dicetak dan ditebus dengan harga Rp 20.000 untuk ukuran 4R dan Rp 25.000 untuk ukuran 5R.

Seorang peziarah dari Depok menyebutkan, ia datang bersama rombongan pengajian sebanyak 2 bus. Sebelum ke makam Soeharto, mereka menziarahi tempat-tempat keramat lainnya, yaitu makam Sunan Gunung Djati di Cirebon, lalu ke Pemalang, selanjutnya ke Yogyakarta, baru ke Karanganyar.

“Ya ke sini mah sudah kayak wisata reliji aja, nyambung lah dari Cirebon, Yogya, ke sini. Kita kan harus menghargai dan menghormati jasa para pemimpin bangsa ini,” kata ibu tersebut.

Soal ramainya pengunjung di bulan Maulud ini dibenarkan Endri, seorang penjual kaus khas Giribangun. Sejak subuh hingga tengah malam, kata Endri, peziarah tak habis-habisnya berdatangan.

“Saya sudah datang ke Giribangun sebelum subuh, pulang tengah malam. Ini berkah Maulud,” kata Endri.

Ya walau sudah meninggal beberapa tahun lalu, nama besar HM Soeharto tetap menjadi daya tarik untuk para pengunjung dan peziarah. Terutama mereka yang pernah mengalami kehidupan di masa Orde Baru. Tentu banyak ingatan dan kenangan yang membekas, sehingga mengupayakan untuk bisa berziarah ke Astana Giribangun ini. (*)

Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved