VIDEO Peziarah Dilarang Memotret di Makam Jenderal Besar HM Soeharto di Astana Giribangun, Kenapa?

Sebelum berziarah, TribunCirebon.com mendaftarkan diri dulu ke bagian pendaftaran untuk memperoleh surat izin berziarah.

VIDEO Peziarah Dilarang Memotret di Makam Jenderal Besar HM Soeharto di Astana Giribangun, Kenapa?
TribunCirebon.com/Machmud Mubarok
Rombongan peziarah berdoa di pelataran cungkup Argosari sebelum memasuki ruang utama makam HM Soeharto dan Tien Soeharto di Astana Giribangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (9/11/2019). 

Saat TribunCireboncom berkunjung ke sana, Sabtu (9/11/2019), suasana peziarah cukup ramai. Beberapa saat setelah azan Zuhur, hujan lebat mengguyur kawasan Astana Giribangun. Menurut warga setempat, itu hujan deras pertama yang turun di daerah Astana Giribangun.

Suasananya memang teduh, karena kawasan itu dipenuhi pohon-pohon besar dan rindang. Ojek payung langsung muncul menawarkan payung kepada pengunjung saat hujan turun. Satu payung cukup bayar Rp 5.000.

Sebelum berziarah, TribunCirebon.com mendaftarkan diri dulu ke bagian pendaftaran untuk memperoleh surat izin berziarah. Syaratnya cukup menunjukkan KTP saja dan biaya administrasi seikhlasnya.

Dari pelataran parkir, TribunCirebon.com lalu menuju ke pintu gerbang Astana Giribangun. Pintu gerbang dijaga oleh dua orang satpam. Setelah menanjak, lalu tiba di pintu masuk sebelah timur. Namun pintu ini ditutup. Peziarah harus masuk lewat pintu selatan. Sebelumnya melewati jalan menurun, peziarah tiba di undakan tangga gerbang selatan.

Anggota Polisi Ini Mengaku Didatangi Jin Berwujud Biksu, Diminta Selamatkan Puing Candi di Indramayu

Di sini peziarah membuka alas khaki lalu masuk ke pelataran bangunan cungkup Argosari. Sambil menunggu giliran masuk ke bagian utama, yaitu makam Soeharto, Bu Tien, bapak dan ibu Ibu Tien, serta kakak Bu Tien, peziarah bisa berdoa secara berombongan dulu.

Di pelataran ini terdapat beberapa makam di sayap kanan dan kiri. Saat hendak masuk ke ruang inti cungkup, petugas meminta para peziarah untuk tidak memotret atau mengambil gambar apapun di dalam. Semula TribunCirebon.com mengira, larangan itu karena memang dikeramatkan dan mungkin pernah ada kejadian yang menimpa peziarah yang nekat mengambil gambar.

Ternyata bukan itu alasan pelarangan. Pihak pengelola sudah menyiapkan beberapa orang fotografer untuk memotret para peziarah di dekat makam Pak Harto dan Bu Tien. Foto-foto itu bisa dicetak dan ditebus dengan harga Rp 20.000 untuk ukuran 4R dan Rp 25.000 untuk ukuran 5R.

Seorang peziarah dari Depok menyebutkan, ia datang bersama rombongan pengajian sebanyak 2 bus. Sebelum ke makam Soeharto, mereka menziarahi tempat-tempat keramat lainnya, yaitu makam Sunan Gunung Djati di Cirebon, lalu ke Pemalang, selanjutnya ke Yogyakarta, baru ke Karanganyar.

“Ya ke sini mah sudah kayak wisata reliji aja, nyambung lah dari Cirebon, Yogya, ke sini. Kita kan harus menghargai dan menghormati jasa para pemimpin bangsa ini,” kata ibu tersebut.

Soal ramainya pengunjung di bulan Maulud ini dibenarkan Endri, seorang penjual kaus khas Giribangun. Sejak subuh hingga tengah malam, kata Endri, peziarah tak habis-habisnya berdatangan.

Halaman
123
Penulis: Machmud Mubarok
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved