Sungai Cilamaya yang Membelah 3 Kabupaten di Jabar Tercemar Zat-zat Berbahaya, Tak Layak Dikonsumsi

perusahaan yang diduga melakukan pencemaran sungai cilamaya merupakan gabungan wilayah Purwakarta dan Karawang.

Sungai Cilamaya yang Membelah 3 Kabupaten di Jabar Tercemar Zat-zat Berbahaya, Tak Layak Dikonsumsi
ISTIMEWA
Tim peneliti dari Perum Jasa Tirta II saat melakukan penelitian di Sungai Cilamaya. 

Laporan Wartawan Tribun, Ery Chandra

TRIBUNCIREBON.COM, PURWAKARTA - Air sungai Cilamaya yang membelah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang, disinyalir tercemar limbah industri dan domestik. Hal itu sudah terjadi sekitar 20 tahun.

Dalam pemaparan di Gedung Kembar, di Jalan Nagri Tengah, yang dihadiri oleh tim peneliti dari Perum Jasa Tirta II dan anggota DPR RI, Dedi Mulyadi, dinyatakan bahwa Sungai Cilamaya tercemar zat-zat berbahaya.

Asisten Manajer Laboratorium Jasa Tirta II, Leni Mulyani, mengatakan setelah pihaknya mengambil sampel air di empat titik pada Jumat (4/10/2019) lalu. Yakni di Daerah aliran sungai (DAS) Cilamaya, sebelum PT San Fu Indonesia, setelah PT San Fu Indonesia dan PT Papertech menganalisa hasilnya variatif.

"Itu memang ada beberapa parameter yang cukup tinggi. COD (Chemical Oxygen Demand), BOD (Biological Oxygen Demand). Satu diantara parameter mengindikasikan bahwa ini sungai tercemar," ujar Leni Mulyani, di Jalan Nagri Tengah, Kabupaten Purwakarta, Rabu (16/10/2019).

Menurutnya, hasil sementara tercatat sangat tinggi dan berbahaya. Untuk baku mutu di angka 10 dan hasilnya diatas 800. Yang paling signifikan untuk COD dan BOD dari hulu sungai Cilamaya menunjukkan angka tinggi sekitar 30.

"Untuk BOD dan COD 102. Sebelum papertech dihulu 27, untuk COD dan BOD 14. Setelah san fu 800 untuk hasil COD, dan itu cukup tinggi," katanya.

Siswa Penerima Hadiah Sepeda dari Presiden Jokowi Gantung Diri, Tinggalkan Surat Wasiat

Ahli Fengshui Ramal Cucu Presiden Jokowi 50 Tahun Lagi Bakal Jadi Pejabat Negara Hingga Negarawan

Padahal, standar COD mestinya diangka 10 dan BOD diangka 2. Hasil temuan membuat mereka merasa kaget. Pasalnya, sudah tidak bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Sedangkan bagi pertanian terdapat sisi positif dan negatif.

"Dari baku mutu yang sudah ditampilkan, ada beberapa parameter yang tinggi dan ada beberapa yang rendah. Misalkan, fosfat atau amonia memang tinggi. Tapi secara pertanian dia menguntungkan. Karena ada pupuk di dalam situ," ujarnya.

Janda Beranak Satu Tewas Dicekik Pelanggan Warung Kopinya Gara-gara Tolak Cinta Pemuda Pengangguran

Sedangkan, anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) RI, Dedi Mulyadi menuturkan perusahaan yang diduga melakukan pencemaran sungai cilamaya merupakan gabungan wilayah Purwakarta dan Karawang.

"Saya sudah minta barusan ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup) baik Subang, Karawang dan Purwakarta. Bupatinya tinggal ketemu. Kemudian di APBD 2020 segera dianggarkan," katanya seraya menyarankan solusi pembangunan IPAL membutuhkan dana sekitar 25 miliar. (*)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved