Senin, 18 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Perang Tomat Warga Kampung Cikareumbi Lembang Punya Makna Tinggi, Membuang Hal-hal Busuk Diri

Ribuan Warga Kampung Cikareumbi Lembang Antusias Mengikuti Perang Tomat, Ini Tujuannya

Tayang:
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Perang Tomat di Kampung Cikareumbi RW 03, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (13/10/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNCIREBON.COM, LEMBANG - Teriakan dari ribuan warga begitu terdengar dalam acara Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat di Kampung Cikareumbi RW 03, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (13/10/2019).

Pasalnya, dalam perang tomat tersebut sebanyak satu ton tomat dilempar oleh warga ke segala arah, baik ke sesama peserta maupun ke penonton yang menyaksikan perang tomat dari jarak yang cukup dekat.

Perang tomat ini, sebelumnya dibuka dengan serangkaian upacara adat, lalu tokoh ada memberikan aba-aba sebagai pertanda bahwa perang sudah dimulai.

kemudian satu persatu tomat bersilewaran dari dua belah kubu sembari diiringi musik tradisional jaipong.

Agar tubuh para peserta tidak terlalu kotor oleh bercakan tomat yang mengenai tubuhnya, mereka pun memakai alat pelindung yang terbuat dari anyaman bambu berupa helm dan tameng.

Sedangkan untuk penonton yang turut ikut serta mereka ada yang memakai jas hujan.

Namun, meski sudah menggunakan alat pelindung, tubuh mereka tetap basah kuyung karena saking banyaknya tomat yang dilemparkan.

Kendati demikian canda tawa dari mereka tetap terpancar dan membuat acara semakin meriah.

Penggagas Perang Tomat, Mas Nanu Muda (60), mengatakan, tomat yang digunakan dalam perang ini bukanlah tomat yang bagus atau layak dimakan, terapi tomat yang buruk atau sudah busuk.

"Menggunakan tomat busuk untuk perang tomat ini berkaitan dengan makna ngeruat, yaitu membersihkan diri dari hal yang buruk, atau membuang sifat-sifat busuk yang ada dalam diri kita," ujarnya saat ditemui usai perang tomat.

Sedangkan maksud dan tujuan Rempug Tarung Adu Tomat atau Perang Tomat, kata dia, sebagai ungkapan membuang sial bagi segala macam hal yang buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat maupun hal buruk dengan penyakit tanaman.

"Sehingga filosofis mereka membuang atau saling melemparkan tomat ke kepala yang di tutupi topeng berarti menyimbolkan melempar atau membuang sifat-sifat buruk," katanya.

Setelah perang selesai, lanjutnya, seluruh tomat yang sudah hancur dan berserakan di jalan, kemudian dikumpulkan kembali untuk dijadikan bahan kompos pupuk tanaman tomat dan sayuran lainnya.

"Dengan adanya perang tomat bisa meningkatkan kebudayaan dan nilai ekonomi bagi masyarakat dan petani di Cikareumbi," kata Mas Nanu.

Atas hal tersebut, tomat yang busuk itu bukan sekadar untuk amunisi perang sebagai media utama gelar Perang Tomat saja, tetapi sangat multi fungsi. Selain bentuk ungkapan pertunjukan wisata budaya kreatif juga bisa bermanfaat bagi tanaman lain.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved