HEADLINE TRIBUN JABAR: Semua Sudah Habis Dibakar, Lega Bisa Pulang dari Wamena

Sempat tertunda sehari, kedatangan 69 warga Jabar dari Wamena, Papua, di Gedung Pakuan, Bandung, semalam, disambut haru keluarga.

HEADLINE TRIBUN JABAR: Semua Sudah Habis Dibakar, Lega Bisa Pulang dari Wamena
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Warga asal Jawa Barat yang merantau di Wamena, Papua tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (9/10/2019). 

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Sempat tertunda sehari, kedatangan 69 warga Jabar dari Wamena, Papua, di Gedung Pakuan, Bandung, semalam, disambut haru keluarga. Sambil memeluk keluarganya masing-masing mereka menangis tersedu-sedu. Beberapa di antaranya bahkan nyaris tak bisa berkata-kata, hanya menangis sesenggukan. Ada juga yang melamun, seolah masih tak percaya akhirnya benar-benar bisa berada kembali di Bandung.

Kerusuhan berdarah di Wamena, Papua, September lalu, masih sangat membekas di hari mereka. Kengerian yang terjadi adalah sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sedikit pun. Orang-orang diburu lalu dibunuh. Rumah-rumah dibakar.

Puluhan warga Jabar yang kembali dari Wamena, semalam, tak ada satu pun yang membawa banyak barang bawaan. Apa yang mereka bawa hanyalah apa yang bisa selamatkan saat kerusuhan terjadi. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun selama bekerja di Wamena habis nyaris tak tersisa. Dibakar atau dijarah.

Lebih dua minggu mereka mengungsi sebelum akhirnya dijemput dan dipulangkan. Selama itu pula mereka selalu dihantui ketakutan.

"Sepertinya saya tidak ingin kembali lagi ke sana," ujar Muhammad Zidan Ardiansyah (20), warga Baros, Kota Sukabumi, yang mengaku baru delapan bulan tinggal di Wamena menjadi sopir taksi di bandara. Keberangkatannya ke Wamena mengikuti sang adik yang lebih dulu mengadu nasib di sana.

"Sebetulnya tujuan saya bersama istri ke Wamena itu untuk mencari pengalaman dan perubahan nasib hidup. Saat kerusuhan terjadi, saya baru selesai mandi dan hendak mengantre bensin di salah satu SPBU di sana. Saya melihat semua orang lari. Saat yang sama warga lokal berjalan ke sana kemari sambil membakar benda-benda dan bagunan yang mereka temui. Saya sembunyi karena takut," ujarnya di Gedung Pakuan, semalam.

Ia mengatakan, sebelum 23 September, kondisi di Wamena semenarnya aman dan tenang. Namun, pada 23 September, saat rusuh pecah, suara tembakan terdengah hampir sepanjang hari.

"Kami benar-benar ketakutan," ujarnya.

Zidan mengaku, ia pun kehilangan semua hartanya dalam kerusuhan September itu.

"Di Sukabumi nanti, saya dan istri mungkin akan menenangkan diri dulu, baru mencari pekerjaan baru untuk menyambung hidup. Saya berharap, pemerintah berkenan memberi bantuan modal usaha atau lapangan pekerjaan, supaya kami dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ucapnya

Halaman
123
Editor: Muhamad Nandri Prilatama
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved