Kreatif! Limbah Triplek Kayu Disulap Mulya Menjadi Kerajinan Tangan yang Memiliki Estetika Tinggi
Ada beragam bentuk kerajinan yang dibuat oleh Mulya, seperti replika menara eiffel, perahu pesiar, lampu hias, kerangka hewan, dan masih banyak lagi.
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Bagi sebagian orang potongan limbah triplek kayu mungkin hanya dinilai sebagai sampah yang tidak memiliki nilai guna.
Namun di tangan Mulya (47), limbah-limbah tiplek kayu itu disulap menjadi beragam kerajinan unik yang memiliki nilai estetika tinggi sebagai penghias ruangan yang cantik, cocok untuk di simpan di perkantoran maupun perumahan.
Mulya menceritakan, sudah sedari kecil mencintai sebuah karya seni, terutama terhadap seni kriya atau kerajinan tangan.
"Kalau eksis bikin ini mulai tahun 2015," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Senin (23/9/2019).
• Tangis Gadis Penjual Kue Ini Pecah Saat Tahu Kapolres Kesayangannya Pergi, AKBP Cepi: Bapak Pamit
• Cerita Dibalik Penggerebekan Teroris Cilincing, Warga Sebut Ada Anggota Densus Nyamar Karyawan Kafe
Ada beragam bentuk kerajinan yang dibuat oleh Mulya, seperti replika menara eiffel, perahu pesiar, lampu hias, kerangka hewan, dan masih banyak lagi.
Adapun, untuk menambah daya tarik ia juga menerapkan sebuah lampu LED warna-warni di setiap kerajinan tangan yang dibuatnya itu.
"Ini juga dadak belajar pakai lampu LED karena request temen dan ternyata memang banyak yang suka," ujar dia.
Di tempat usaha rumahan yang ia beri nama Woodcraft di Desa Sudimampir Lor, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu itu dirinya bisa menciptakan satu buah kerajinan tangan dalam waktu 1-4 hari.
"Karena masih manual jadi perlu waktu, itu juga tergantung kerajinannya, kalau menara eiffel ini kan banyak lubangnya jadi bisa 4 hari kalau yang simple sehari juga jadi," ucap dia.
Walau terbilang kreatif. Namun, dirinya masih memiliki kendala dari sisi promosi.
Hal tersebut karena mayoritas pembeli sekarang ini lebih banyak berdatangan dari pemesan pola yang ia ciptakan ketimbang memesanan kerajinan tangan dalam bentuk siap pajang.
"Kalau pesanan itu memang sudah dari mana-mana bahkan sampai Malaysia, tapi itu polanya (gambarnya) saja bukan barang jadinya," ujar dia.
Diceritakan dia, ada ratusan pola-pola yang sudah ia ciptakan, pola-pola itu ia jual dengan harga Rp 25-50 ribu saja, termasuk turtorial perakitan dalam bentuk PDF.
"Dalam sekali pemesanan pola itu bisa sampai Rp 400-500 Ribu untuk sekali order, makanya saya tergiur untuk jual pola karena kebutuhan mas, meskipun penjualan itu kan tidak setiap waktu," ujar dia.