WASPADA untuk Orangtua, Minuman Semprot Yang Biasa Dijual di SD, Ternyata Ada Kandungan Beracun
Orangtua khususnya di Jawa Barat yang mempunyai anak tingkat SD sepertinya harus waspada terhadap jajanan yang dikonsumsi anak
TRIBUNCIREBON.COM - Orangtua khususnya di Jawa Barat yang mempunyai anak tingkat SD sepertinya harus waspada terhadap jajanan yang dikonsumsi anak.
Pasalnya berdasarkan hasil uji laboratorium Diskes Bandar Lampung dinyatakan bahwa minuman semprot yang beredar di sekolah dasar di Bandar Lampung mengandung racun.
Bahkan Diskes menyebutkan jenis minuman ini sudah pernah dikonsumsi oleh 13 siswa SD.
"Berdasarkan hasil pengecekan laboratorium kesehatan bahwa kandungan minuman tersebut terbukti dan positif mengandung racun," papar Budi Ardiyanto selaku Kabid P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinkes Bandar Lampung saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (11/9/2019).
Jika normalnya 0,05 mg, tapi setelah diperiksa sampai 0,1 hingga 0,2 mg.
"Artinya itu mengandung racun di dalam minuman tersebut, dan kami juga sudah berkordinasi dengan BBPOM Bandar Lampung untuk bersama-sama pastikan kandungan di dalam minuman tersebut," katanya.
"Jadi bisa juga ditanyakan kepada BBPOM terkait uji laboratorium mereka hingga sampai ke mikro pemeriksaannya," tambah dia.
Diketahui bahwa kejadian 13 siswa SD yang mengonsumsi minuman tersebut terjadi pada 31 Agustus 2019 lalu, dan pihak dari Puskesmas Bakung telah menangani 13 siswa.
Keracunan Permen di Bandung

Sebanyak 21 siswa SDN 3 Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi permen yang dijual di sekolahnya, Kamis (29/8/2019)
Kapolsek Banjaran, Kompol Mulyadi melalui telepon seluler membenarkan informasi tersebut. Menurutnya kejadian itu terjadi sekitar Pukul 10.30 WIB.
"Iya ada kejadiannya sekitar pukul 10.30 WIB," ujarnya melalui pesan singkat tadi siang.
Mulyadi menuturkan para siswa sempat dilarikan ke Puskesmas Kiangroke Banjaran untuk mendapat penanganan medis. Namun setelah dinyatakan sehat para korban ini langsung kembali ke rumahnya masing-masing.
"Kalau sekarang sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing, setelah mendapat pengobatan dari puskesmas," ujarnya.
Ia mengungkapkan kejadian itu terjadi setelah para siswa membeli permen yang dijual oleh salah satu murid.
"Kejadiannya ada yang jual mainan berupa permen, anak-anak beli, tahu-tahu terjadi keracunan ada sekitar 21 orang," ungkapnya.
Anak-anak tersebut mengeluh pusing dan mual setelah mengkonsumsi permen tersebut. Para korban langsung dibawa ke puskesmas setempat.
"Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung turun dan sudah dinyatakan sehat dan baik-baik saja," terangnya.
Pihaknya bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung sedang melakukan penyelidikan bersama Inafis Polres Bandung terkait kandungan yang ada di makanan tersebut.
"Iya, sekarang sedang diperiksa penjualnya, kemudian kami akan teliti juga permennya apakah kadaluarsa atau mengandung sesuatu. Kami belum mengerti," jelasnya.
Ia menambahkan sementara pihaknya tidak mengamankan penjual makanan tersebut karena masih siswa di SD tersebut. Tapi pihaknya akan menelusuri asal usul permen tersebut.
Menurut pantauan Tribun di Puskesmas Kiangroke Banjaran, para siswa korban keracunan itu sudah dipulangkan ke rumahnya masing-masing.
Kasus lain keracunan pindang

Tim investigasi kejadian luar biasa keracunan membutuhkan waktu empat jam untuk sampai di lokasi keracunan Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr Irvan Fauzy, menerima laporan kejadian Sabtu (22/6/2019) sekitar pukul 09.30 WIB.
"Dikarenakan lokasi kejadian cukup jauh dari ibu kota, sehingga tim investigasu membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk sampai di lokasi kejadian," ujar Irvan, Minggu (23/6/2019).
Irvan mengatakan, adapun lokasi kejadian yaitu di 4 dusun atau kampung, antara lain Kampung Ciseureuh RT 01/03, Kamoung Cieurih RT 01/03, Kamoung Cisireum RT 02/03, dan Kamoubg Cimareme RT 03/03, Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang.
Tim menduga makanan pindang ikan mas tersebut mulai dikonsumsi oleh penderita pada hari Rabu (19/6/2019) sekitar pukul 09.00 WIB, dan pada hari yang sama sekitar pukul 20.00 WIB terdapat salah seorang yang menderita dengan gejala keracunan datang berobat ke salah saorang petugas Puskesmas Sindangbarang.
Lalu pada Kamis (20/6/2019) penderita yang berobat bertambah 2 orang, selanjutnya pada hari Jumat (21/6/2019) kasus bertambah lagi dengan jumlah sebanyak 2 orang, jadi dengan demikian jumlah kasus seluruhnya menjadi 5 penderita dengan gejala yang relatif sama pada hari itu.
Ditempat lain yaitu di Kampung Cisireum, terdapat penderita yang berobat sebanyak 11 orang.
Dikampung Ciseureuh terdapat juga penderita sebanyak 8 yang berobat ke petugas Puskesmas yang berada disekitar penduduk kampung tersebut.
"Menurut keterangan para petugas yang pernah menangani dan mengobati penderita, mereka tidak mengira jika hal tersebut merupakan suatu kejadian yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diperkirakan adalah keracunan pangan, sehingga mereka hanya berusaha untuk mengobati penderita yang datang untuk berobat. Perkiraan mereka hal tersebut dikarenakan hanya penyakit diare biasa," kata Irvan.
Irvan mengatakan, hasil investigasi Tim juga menjelaskan pada kejadian ini terdapat kasus yang meninggal sebanyak 2 orang. Dari hasil investigasi
seorang yang meninggal atas nama Ahmad (62 l) sebelumnya berobat ke perawat yang berlokasi disekitar rumah korban.
Menurut keterangan diduga korban sebelumnya mengonsumsi makanan yang sama dengan kasus pada kejadian ini, yaitu olahan pindang ikan mas yang dijual tersebut.
Korban mulai mengonsumsi pangan tersebut pada hari Rabu (19/6/2019) sekitar pukul 10.00 WIB. Lalu yang bersangkutan datang untuk berobat pada hari Kamis (20/6/2019) pukul 13.00 WIB dengan gejala muntah, sesak, diare.
Gejala tersebut timbul pada pada hari itu juga sekitar jam 07.00 WIB. Dengan kondisi saat berobat itu korban disarankan untuk berobat lebih lanjut ke Puskesmas karena ada indikasi perlu perawatan.
Namun keluarga menolak untuk dirujuk. Pada hari Jumat (21/6/2019) sekitar 05.15 WIB yang bersangkutan meninggal dunia.
Tim juga menginvestigasi korban meninggal kedua atas nama Rindi (11), berdasarkan informasi dari petugas yang pernah manangani kasus bahwa korban sebelumnya mengkonsumsi pangan yang sama dikonsumsi kasus di atas.
Korban mengeluh muntah, diare, tidak mau makan, lemas, mulai hari Rabu (19/6/2019) sekitar pukul 20.00 WIB.
Lalu Kamis (20/6/2019) pagi korban berobat ke Pa Yusuf seorang perawat Puskesmas Cidaun dan dilakukan pengobatan.
Sorenya sekitar pukul 18.00 WIB keluarga korban memanggil salah seorang perawat yang berlokasi di sekitar rumah korban untuk memeriksa kondisi korban.
Sehubungan petugas tersebut membutuhkan obat yang harus dibeli di apotik dan keluarga harus menunggu lama, akhirnya keluarga memanggil salah seorang bidan Desa Jayagiri.
Kondisi saat diperiksa oleh bidan tersebut korban dalam keadaan lemas karena dehidrasi. Melihat kondisi seperti itu korban dirujuk ke Puskesmas Sindangbarang, namun keluarga menolaknya.
Akhirnya korban dilakukan perawatan dirumah dengan pemberian rehidrasi Cairan Infus RL habis 2 labu.
Mempertimbangkan kondisi korban semakin buruk, akhirnya korban dirujuk ke Puskesmas Sindangbarang pada hari Jumat pagi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter Puskesmas bahwa korban ditemukan gejala diare, mual tanpa disertai muntah, dan demam. Pada sore hari korban mengalami kejang dan diberikan obat antikejang yang diberikan secara injeksi.
Pihak Puskesmas memberikan penjelasan bahwa kondisi korban semakin memburuk sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit, namun keluarga pasien menolak. (*)