PKL di Bantaran Sungai Cimanuk Lapaknya Ditertibkan Satpol PP, Bilang Enak Zaman Yance dan Anna

Dirinya menyayangkan sikap tidak adil tersebut. Lanjut dia, kalau mau menggusur harus semua jangan hanya rumah milik rakyat kecil.

PKL di Bantaran Sungai Cimanuk Lapaknya Ditertibkan Satpol PP, Bilang Enak Zaman Yance dan Anna
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Warga korban gusuran bangunan liar di Bantaran Sungai Cimanuk tepatnya di Jalan Cimanuk Timur Indramayu, Rabu (11/9/2019) 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Penggusuran Pedagang Kaki Lima (PKL) dan bangunan liar di sepanjang Bantaran Sungai Cimanuk dari Jembatan Pendopo hingga Jembatan Waiki berlangsung ricuh pada hari ketiga.

Diketahui penggusuran tersebut sudah berlangsung mulai Senin (9/9/2019) kemarin dan rencananya pada Kamis (12/9/2019) semua bangunan sudah rata dengan tanah.

Seorang warga korban penggusuran, Sri Hariyanin (55) mengatakan, yang memantik kemarahan warga adalah sikap pemerintah yang tebang pilih.

"Kenapa cuma sampai rumah saya, itu yang di samping sampai Jembatan Pendopo sana kenapa enggak digusur, jangan tebang pilih," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Rabu (11/9/2019).

Dirinya menyayangkan sikap tidak adil tersebut. Lanjut dia, kalau mau menggusur harus semua jangan hanya rumah milik rakyat kecil.

Sementara itu, Sri Hariyanin mengakui, tidak begitu mengenal pemilik rumah-rumah itu, diketahui rumah tersebut milik para pengusaha besar, namun jarang ditempati.

Selain itu, bangunan-bangunan liar lain yang berada disebelahnya juga tidak dilakukan penggusuran, padahal mereka juga sama mendirikan rumah di atas tanah milik negara.

"Enakan Bupatinya Pak Yance atau Bu Anna Sophana, Bupati yang sekarang gusur-gusuran. Kalau Pak Yance atau Bu Annah tidak ada gusur-gusuran," ujar dia sembari menangis.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Satpol PP Indramayu, Hamami Abdul Ghani menjelaskan, ada sebanyak 205 bangunan yang akan digusur pada hari ini.

Jumlah tersebut tidak mencangkup seluruh bangunan liar sepanjang jalan antara Jembatan Pendopo hingga Jembatan Waiki.

"Kami Satpol PP hanya menjalankan tugas, hanya eksekusinya saja. Kenapa yang di sana tidak digusur, karena lahannya tidak dibutuhkan," ujar dia.

Dirinya menjelaskan, bangunan liar yang tidak digusur itu karena sudah terdapat taman kota di bagian belakangnya.

Taman itu merupakan pembangunan taman kota pada tahap sebelumnya. Karena tidak diperlukan jadi bangunan-bangunan itu tidak dilakukan penggusuran.

Sementara itu, Hamami Abdul Ghani mengatakan, untuk relokasi atau ganti rugi bukan tugas dari Satpol PP. Pihaknya hanya menjalankan tugas pengeksekusian lahan saja.

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved