Breaking News:

Dua Warung Miras di Anjatan Digerebek Satpol PP Indramayu, 78 Botol Miras dan 25 Liter Tuak Disita

Meski dilarang, namun keberadaan para pelaku ini kerap kali dilindungi oleh masyarakat yang menjadi konsumen.

Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Satpol PP Indramayu saat menggerebek dan mengamankan minuman beralkohol dari pemilik 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Dinas Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Indramayu menggerebek para pedagang di wilayah Kecamatan Anjatan yang diduga menjadi tempat jual beli minuman keras (miras).

Dari operasi tangkap tangan itu Satpol PP Indramayu mengamankan sebanyak 78 botol minuman keras dari berbagai merek dan 25 liter tuak dari dua pedagang berbeda.

Kabid Penegakan Perundang-Undangan Daerah Satpol PP Kabupaten Indramayu, Kamsari Sabarudin mengatakan, tangkap tangan pertama dilakukan kepada pelaku bernama Tarsana di Desa Anjatan Utara dengan barang bukti sebanyak 78 botol mihol.

Lanjut dia, tangkap tangan dilakukan kepada pelaku bernama Roslina di Desa Lempuyang dengan barang bukti sebanyak 1 drigen atau 25 liter tuak.

"Barang bukti kami disita untuk dimusnahkan dan dijadikan barang bukti untuk kepentingan penyidikan," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Kamis (22/8/2019).

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, penggerebekan kesejumlah warung yang diduga memperjual belikan mihol, secara rutin dilakukan pihaknya sebanyak 3-4 kali dalam seminggu.

Menurutnya, penyakit masyarakat ini sangat meresahkan terlebih keberadaan mereka bertentangan dengan Perda Nomor 7 tahun 2005 jo dan Perda Nomor 15 tahun 2006 tentang Pelarangan Minuman Beralkohol yang berlaku di Kabupaten Indramayu.

Meski dilarang, namun keberadaan para pelaku ini kerap kali dilindungi oleh masyarakat yang menjadi konsumen.

Tidak hanya itu, kebiasaan masyarakat apabila dalam keadaan berkumpul baik pada momen apapun masih kental dengan tradisi minum minuman keras.

Modus lainnya, para pedangang miras selalu berkoordinasi dengan pedangang mihol lainnya bilamana di wilayah tersebut tengah menjadi sasaran penggerebekan pihak Satpol PP.

"Komunikasi antar pedagang ini yang menjadi kendala kita, tapi tatep kita sebagai aparat semaksimal mungkin kita akan amankan," ujar dia.

Terkait sanksi dirinya menjelaskan, para pelaku dikenakan denda administrasi. Jumlahnya bervariatif tergantung kesalahan yang diperbuat.

"Ada Rp 30 juta, Rp 15 juta, dan lain-lain. Jika tidak bisa membayar akan dikenakan hukuman kurungan penjara. Jadi jangan sangka kalau tetap memandel bukan tidak mungkin akan dipenjara," ujar dia.

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved