Niat Bantu Orangtua dan Bangun Masjid, Komara Kerja ke Malaysia dan Tewas Hanyut di Sungai

nasib nahas dialami warga Kampung Tutugan RT 02/05, Desa Neglasari, Kecamatan Cidaun ini. Baru seminggu bekerja, ia tewas hanyut di sungai.

Istimewa
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ferri Amiril 

CIANJUR - Cerita pilu dialami Ahmad Komara (26), niat untuk membantu ekonomi keluarga dan bercita-cita membangun masjid, lalu ia nekat pergi ke Malaysia untuk bekerja di kebun kelapa sawit.

Namun nasib nahas dialami warga Kampung Tutugan RT 02/05, Desa Neglasari, Kecamatan Cidaun ini. Baru seminggu bekerja, ia tewas hanyut di sungai.

Pencarian melibatkan unsur pemerintah dan ustaz. Dari cerita sang ayah, Udin Syamsudin (71), Ahmad Komara ditemukan setelah dua hari pencarian. Udin mengatakan, ia sempat melarang anaknya untuk pergi bekerja ke luar negeri. Ia meminta anaknya saat itu untuk bekerja di Jakarta saja.

"Ia putra kedua saya. Sudah dilarang pergi ke Malaysia, namun ia berkata ingin membantu orangtua dan ingin bantu membangun masjid di kampung," kata Udin saat meminta bantuan ke kantor Forum Pegawai Migran Indonesia di Cianjur, Selasa (30/7/2019).

Udin harus merelakan anaknya dimakamkan di negeri orang karena kondisi dan situasi. Hampir setahun, Udin menunggu kabar dari perusahaan atau dari pihak berwenang mengenai hak yang belum diterima anaknya.

Satu Orang Pesawat Cessna yang Jatuh Hanyut di Sungai Rambatan, Ini Kesaksian Warga yang Melihat

Saat Sedang Berjalan Rositar Terpeleset Hingga Hanyut di Sungai Ciwulan, Petugas Masih Mencarinya

"Saya datang ke FPMI minta bantuan hukum atas meninggalnya anak saya Ahmad Komara (26) yang meninggal di Malaysia, ia berangkat dengan sponsor bernama Imas orang Kuningan," ujar Udin.

Ia menceritakan, pertama mendengar kabar meninggal anak dari teman anak di Malaysia.

"Anak saya meninggal hanyut di sungai, untuk penguburan dikuasakan ke Romlah. Saya hanya menerima uang tiga kali sebesar Rp 1 juta saat tiga hari setelah meninggal, lalu tujuh hari, dan 40 hari, uang itu dititipkan dari sponsor melalui kerabat saya," kata Udin.

Udin mengatakan, setelah anaknya meninggal tak ada bantuan lain dari perusahaan atau pihak berwenang.

"Saya mohon kepada FPMI minta hak anak saya seperti asuransinya, biaya kematian, dan lainnya, apalagi anak saya mati di negeri orang, saya hanya menerima bantuan alakadarnya," katanya.

Udin mengatakan, anaknya bekerja di perusahaan Samling Plantatiin SDN Bhd. Ia mengaku baru mengurus sekarang karena baru sehat setelah selesai operasi pecah lambung yang ia derita.

Udin mengatakan, selain anaknya, kerabat lainnya yakni Kurnia (37) juga meninggal di perusahaan yang sama karena terlilit tali. Sekjen FPMI Herlan Davion, mengatakan, setelah mendapat kuasa pihaknya langsung kroscek ke TKP orangtuanya.

"Saya menanyakan kronologis kejadian, langsung mengecek ke Disnaker kedua anak yang berangkat ke Malaysia tak ada rekom, tindak selanjutnya akan mengupayakan kroscek lebih dalam lagi," ujar Herlan.

Menurutnya, karena ada paspor maka pihaknya akan mengecek ke BNP2TKI, Kemenlu, duta besar, dan KJRI. (*)

Editor: Muhamad Nandri Prilatama
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved