Hanif Remaja Asal Gresik Bantu Ayahnya di Pemrograman Jam Digital per Bulan Raup Puluhan Juta Rupiah

Cerita inspiratif datang dari keluarga Ahmad Mukhlis dan Anik Lutfiyah, warga Jalan Pati, Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar

Hanif Remaja Asal Gresik Bantu Ayahnya di Pemrograman Jam Digital per Bulan Raup Puluhan Juta Rupiah
(KOMPAS.com / HAMZAH)
Hanif Arroisi Mukhlis sukses bantu sang ayah menciptakan jam digital dengan omset puluhan juta per bulan. 

TRIBUNCIREBON.COM - Cerita inspiratif datang dari keluarga Ahmad Mukhlis dan Anik Lutfiyah, warga Jalan Pati, Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Mukhlis yang memiliki kemampuan di bidang perangkat keras rupanya dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Hanif Arroisi Mukhlis (18). Bapak dan anak ini bekerja sama membuat jam digital yang biasa dipasang di masjid atau pun musala. Hanif yang merupakan anak sulung dari lima bersaudara mampu melengkapi kemampuan sang ayah di sektor pemrograman.

Dengan kini, mereka berdua mampu menghasilkan perangkat jam digital dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

"Saya memang lulusan ITS (Institut Teknologi Surabaya), namun soal bahasa pemrograman itu nggak seberapa jago. Alhamdulillah setelah Hanif ada, kami bisa saling melengkapi," kata Mukhlis, Sabtu (6/7/2019).

Hanif yang baru saja lulus SMA menjadi anak yang diandalkan oleh Mukhlis untuk melengkapi produk jam digital yang mereka ciptakan, khususnya dalam bahasa pemrograman.

HEBAT - Di Tangan Ketiga Mahasiswa Tidar Magelang Ini Limbah Kulit Kacang Disulap Jadi Prebiotik

KREATIF - Ditangan Laili Biji Salak Diolah Jadi Makanan dan Minuman per Bulan Raup Rp 6 Juta

"Jadi Hanif ini sejak kecil memang suka dengan hal-hal seperti itu. Pertama saya kenalkan dengan adik kelas di ITS yang paham dengan bahasa pemrograman, setelah itu dia belajar sendiri melalui internet, browsing-browsing sendiri," jelasnya.

Jam digital yang diberi label 'Wal Ashri' yang berhasil mereka ciptakan memiliki tiga varian yakni, ukuran 38 centimeter yang dihargai Rp 550.000, ukuran 70 centimeter Rp 800.000, dan ukuran 1 meter yang dipatok Rp 1,3 juta.

"Alhamdulillah lancar meski saat ini sedang sepi, tidak seperti bulan sebelumnya, kami masih mendapat untung Rp 10 juta. Tapi sebelum dan saat puasa (Ramadhan) kemarin bisa sampai 50 unit terjual, dengan omzet yang kami dapatkan hingga Rp 32 juta," tutur Mukhlis.

Ia mengaku memang belum 100 persen menekuni produksi jam digital. Terlebih lagi, Mukhlis masih bekerja di tempat lain, sementara Hanif juga berencana melanjutkan studinya ke perguruan tinggi.

"Hanif memang membantu pemrograman saja, sementara hardware hingga pemasaran tetap saya yang melakukan (menjalankan)," kata dia.

Halaman
12
Editor: Muhamad Nandri Prilatama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved