Politik
Jabatan AHY di Partai Demokrat Mulai Disinggung, Kogasma Dibilang Ilegal, Loyalis SBY Pasang Badan
Putra Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY pun termasuk menjadi sasarannya.
TRIBUNCIREBON.COM - Baru-baru ini kisruh internal Partai Demokrat mencuat setelah Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKDP) Partai Demokrat buka suara.
Putra Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY, Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY pun termasuk menjadi sasarannya.
Posisi AHY sebagai Kogasma Partai Demokrat disebut ilegal karena tak ada dalam AD/ART kepengurusan.
Selain itu, keberadaan Kogasma itu dinilai tak berdampak besar terhadap hasil Pemilu 2019.
Hal ini disebabkan perolehan suara partai yang dipimpin SBY anjlok pada Pemilu 2019.

Namun, kini tudingan tersebut dipatahkan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan.
Melalui keterangan tertulis di laman resmi Partai Demokrat, lembaga Kogasma disebut legal sesuai spirit AD/ART.
• Bangkai Gerbong KA di Stasiun Purwakarta Ludes Terbakar, Pemadam Kebakaran Kesulitan Cari Sumber Air
Penetapan lembaga yang dikerahkan AHY itu berdasarkan rapat pengurus DPP Partai Demokrat pada 9 Februari 2018.
Menurut Hinca Pandjaitan, dibentuknya Kogasma ini memang untuk menjawab kebutuhan Partai Demokrat untuk pemenangan pada Pemilu 2019.
Oleh karena itu, ia menyebut Kogasma itu ilegal merupakan tudingan yang tak berdasar.
"Tudingan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menilai Kogasma ilegal merupakan tudingan yang keliru dan tidak berdasar," ujarnya.
Selain itu, Hinca Pandjaitan pun menyebut anggapan Kogasma AHY tak berdampak itu salah.
"FKPD yang menyatakan pembentukan Kogasma Partai Demokrat tidak memberi dampak apapun adalah cara pandang yang misleading dan tidak tepat," kata sekjen Partai Demokrat itu.

Ia membeberkan beberapa bulan sebelum pelaksanaan Pemilu 2019 pada 17 April, elektabilitas Partai Demokrat sekitar 3 sampai 4 persen.
• Gara-gara Ucapkan Hal Ini, Warganet Malah Sindir Vanessa Angel soal Pakaian Malam Jumat
Hal itu disebut bisa dibuktikan dari elektabilitas yang dikeluarkan berbagai lembaga survei.
Selain itu, konsentrasi pengurus partai pun terpecah ketika ibu AHY, Ani Yudhoyono divonis mengidap kanker darah.
Seperti yang diketahui, sebelum meninggal, Ani Yudhoyono pun harus dirawat secara intensif di Singapura.
Sebagai suami, SBY pun mendedikasikan seluruh waktunya untuk mendampingi sang istri.
Menurut Hinca Pandjaitan, saat kondisi genting itu, keberadaan AHY justru bisa meningkatkan kekuatan Partai Demokrat.
"Berkat kerja keras Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu 2019, bersama-sama semua kader di seluruh Indonesia, Partai Demokrat tetap mampu mempertahankan kekuatan politiknya di angka 7,7 persen," katanya.
SBY Disebut Gagal Pimpin Demokrat
Ketua Umum Partai Demokrat SBY dinilai gagal menjadi pemimpin partai.
Hal ini disampaikan Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Senior Partai Demokrat.
Satu di antara pendiri Partai Demokrat, Hengky Luntungan menyebut, SBY gagal memimpin partai dalam dua periode.
"Bapak ketua umum dalam hal ini Bapak Susilo Bambang Yudhoyono selama menjadi ketua umum Partai Demokrat dalam dua periode, yakni tahun 2014 dan 2019 dinyatakan gagal," ujarnya dikutip dari tayangan Metro TV.
SBY disebut membuat Partai Demokrat hancur di bawah kepemimpinannya.
"Partai Demokrat hancur di bawah kepemimpinan Pak SBY," katanya.
Tak hanya itu, ia pun memastikan Demokrat pernah besar.
Namun, keberhasilan partai disebut bukan karena sosok ayah Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.
"Partai Demokrat pernah besar tapi bukan karena SBY," kata Hengky Luntungan.
Kemudian, Hengky pun menegaskan, ayah AHY bukanlah pendiri Partai Demokrat.
"SBY bukanlah pendiri Partai Demokrat apalagi memilikinya," ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya meminta Partai Demokrat untuk segera menggelar kongres luar biasa.
"Pendiri dan Deklarator Senior Partai Demokrat untuk melaksanakan kongres dipercepat dan atau kongres luar biasa Partai Demokrat," kata Hengky Luntungan.
SBY Masih Menata Hati
Saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY masih menata hati setelah kepergian sang istri tercinta.
Di tengah gejolak dan hiruk pikuk arah partai politik, SBY menarik diri.
SBY hanya memantau dari jauh soal politik Indonesia.
Ia fokus merawat Ani Yudhoyono di Singapura hingga sang istri menghembuskan napas untuk terakhir kalinya.
Selama beristirahat di kediamannya di Cikeas, SBY ditemui oleh wakil presiden sekaligus sahabatnya, Jusuf Kalla.
Hal tersebut diketahui dari artikel yang dimuat di laman resmi Partai Demokrat, pada 26 Juni 2019.
SBY curhat atau cerita kepada Jusuf Kalla.
Mereka berbicara mengenai masa-masa dulu saat bersama menduduki kursi RI 1 dan RI 2.
"Saya masih menata hati ya. Melalui hari-hari yang berat ini, saya berbincang-bincang dengan sahabat saya, Pak Jusuf Kalla, tadi. Pernah berjuang ke mana-mana mengatasi banyak masalah di negeri ini berdua," kata SBY usai menerima kedatangan Jusuf Kalla, Rabu (26/6/2019).
Saat bertemu Jusuf Kalla, SBY mengaku teringat kembali kunjungan kerja yang pernah mereka lakukan.
"Ibu Ida Jusuf Kalla dan almarhumah juga sering bersama-sama. Saya bilang, 'Pak JK kita dulu sering turun ke daerah mengatasi bencana, mengatasi krisis BBM, ekonomi dan sebagainya," ucap SBY.
Ketika itu pula, Ani Yudhoyono dan istri Jusuf Kalla, Mufidah Kalla turut menemani.
Ani Yudhoyono dan Mufidah Kalla intens melakukan tugas ibu negara dan ibu wakil presiden.
"Istri-istri kita melakukan kegiatan untuk mengembangkan handcraft, kerajinan tangan, hal-hal yang berkaitan dengan sosial," kenangnya.
Pertemuan antara SBY dan Jusuf Kalla hanya sebatas silahturahmi dan tak masuk ranah politik.
Keduanya hanya mengenang beberapa momen saat keduanya bekerja sebagai presiden dan wakil presiden.
Seperti diketahui, Ani Yudhoyono tutup usia di National University Hospital, Singapura, Sabtu (1/6/2019).
Ia dirawat dan berjuang melawan kanker darah sejak Februari 2019.