Ini Kata BPBD Indramayu Soal Amblasnya Tanah di Tanggul Sungai Cimanuk Kertasemaya Indramayu
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu mengungkap penyebab amblasnya tanah
Penulis: Handhika Rahman | Editor: Muhamad Nandri Prilatama
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu mengungkap penyebab amblasnya tanah di Desa Kertasemaya, Blok Rengas Payung Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu.
Kepala BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana melalui Kasi Rekontruksi, Caya mengatakan, berdasarkan hasil assessment yang dilakukan BPBD Kabupaten Indramayu, diduga penyebab amblasnya tanah karena empat hal.
Pertama, karena tanah di lokasi bencana merupakan jenis tanah clay atau lempung yang menyebabkan stabilitas tanah mudah longsor apabila dipicu oleh adanya aliran air.
"Ini terbukti karena adanya retakan yang cukup dalam karena kurangnya serapan air," ujar dia saat ditemui Tribuncirebon.com di ruangannya, Jumat (5/7/2019).
Kedua, adanya pengaruh dari rembesan air hujan, air drainase, dan air dari Sungai Sindupraja yang melintas ke arah Sungai Cimanuk.
• Tanggul Tanah di Kertasemaya Amblas, Sekdes Sebut Dampaknya Bisa Menenggelamkan Dua RT Jika Hujan
• Tanah Amblas di Tanggul Sungai Cimanuk Desa Kertasemaya Indramayu, Sekarang Dalamnya Sudah 3 Meter
Caya juga menjelaskan, Sungai Sindupraja berada di sebelah timur, sedangkan Sungai Cimanuk di sebelah barat, adapun letak geografis Jalur Pantura dan tanggul berada di tengah-tengahnya.
Lanjut dia, kondisi Sungai Cimanuk sekarang ini sedang dalam keadaan surut dan Sungai Sindupraja elavasinya sedang stabil sehingga membuat konstuktur di dalam tanah yang berada di tengahnya justru tergerus ke arah Sungai Cimanuk sehingga menyebabkan amblasnya tanah.
"Tidak tahu ini asal usulnya tanah dari mana yang jelas ini tanah clay, sedangkan di permukaannya ini tanah gembur. Antara tanah gembur dan tanah clay ini tidak menyatu," ujar dia.
Ketiga, karena kondisi Sungai Cimanuk yang meander atau berkelok tajam, sangat curam, tererosi dan cukup dalam airnya.
Keempat, kondisi bantaran sungai yang banyak ditanami pohon pisang oleh warga sekitar, sehingga membuat kondisi tanah menjadi gembur dan kurang menyerap air tanah.
"Istilahnya itu evaporasi. Di sana juga tidak terdapatnya jenis tanaman keras untuk mengikat subsrat tanah," ucap Caya.
Dirinya menjelaskan titik amblasnya tanah terus memanjang dan belum dapat diprediksi akan sampai sedalam apa. Adapun untuk amblasnya tanah itu, kata dia terus bergerak dari arah timur yang mengarah ke barat. (*)