Ini 5 Dampak Buruk Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental, Salah Satunya Menimbulkan Rasa Cemburu

Bea memahami, memutus siklus tersebut sangatlah sulit. Ia menyarankan untuk memiliki jadwal akses media sosial.

Kompas Tekno
Media Sosial 

TRIBUNCIREBON.COM - Media sosial sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Bahkan sebagian orang merasa harus selalu mengunggah kesehariannya lewat media sosial. Apakah Anda termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang dalam sehari mengecek media sosial berkali-kali?

Media sosial memang bisa menghubungkan kita dengan siapapun dan dari manapun, serta bisa mengusir kebosanan. Tapi, media sosial juga bisa menjadi pemicu depresi, adiksi atau distraksi dari hal-hal lainnya yang lebih penting.

Lalu, apakah itu berarti media sosial berbahaya bagi kesehatan mental?

Psikolog klinik, Scott Bea, PsyD mengatakan, salah satu fitur menarik pada media sosial adalah bagaimana orang-orang bisa memberikan umpan balik positif terhadap kita, melalui tombol "like", kolom komentar atau fitur membagi unggahan.

Pria di Bulukumba Selingkuhi Adik Kandungnya Sampai Hamil 4 Bulan, Keluarga Minta Diproses Hukum

Ini 5 Fakta Heboh Video Mesum Sepasang Pelajar SMK di Bulukumba, Jangako Kasih Nyala Blitznya

Meski begitu, media sosial juga memiliki sisi gelap. Setidaknya ada lima dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental, jika kita terlalu banyak mengaksesnya

1. Merasa harga diri berkurang

Di media sosial, orang-orang cenderung menampilkan sisi terbaik dirinya atau kehidupannya. Bea mengatakan, kecenderungan ini memberikan gambaran yang tidak realistis terhadap kehidupan sesungguhnya dan membuat sebagian orang merasa hidup mereka tidak begitu baik. Dari waktu ke waktu, membandingkan diri sendiri dengan hidup orang lain secara terus-menerus bisa membuat seseorang merasa harga dirinya berkurang.

2. Kecemasan

Pola media sosial memaksa sebagian orang untuk terus mengaksesnya, karena ingin mengetahui hal-hal aktual. Sebab, mereka takut ketinggalan hal-hal baru. Sejumlah studi menunjukkan, bahwa rasa takut melewatkan sesuatu -fear of missing out (FOMO)- terkadang bisa meningkatkan rasa ketidakpuasan atau kecemasan.

"Orang-orang melakukannya untuk meyakinkan diri mereka sendiri, namun hal ini justru seperti obat dengan waktu hidup yang pendek," katanya. 

KASUS Ikan Asin, Hotman Bongkar Alasan Mati-matian Bela Fairuz, Sonny Septian Ingin Tonjok Galih

MAKIN PANAS! Galih Ginanjar Sebut Harus Bayar Bertemu Anak, Keluarga Fairuz: Memangnya Dufan

3. Gangguan tidur

Halaman
123
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved