Disperdagin Sebut Ada 3 Faktor Ribuan Ton Garam di Cirebon Tak Laku Terjual

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon menjelaskan ada beberapa faktor penyebab ribuan ton garam

Tribuncirebon.com/Siti Masithoh
Petambak sedang memanen garam. 

"Baik di sini maupun dari Kementerian Perdagangan, belum ada harga ecerean tertinggi (HET) untuk garam. Kalau beras kan ada, sehingga tidak bisa harganya dipermainkan oleh tengkulak maupun industri," ujarnya.

Alasan ketiga, yakni kualitas Nacl garam di Cirebon masih rendah hanya mencapai sekitar 90 persen. Sedangkan garam yang diminta industri dengan kualitas 94 persen.

"Memang kualitas Nacl garam kami masih rendah, sehingga untuk masuk industri sulit. Antisipasinya kami harus meningkatkan kualitas garam," katanya.

Senada dengan itu, Kabid Pemberdayaan Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon, Yanto, mengaku jika kualitas garam di wilayahnya masih rendah.

"Garam yang ada di Kecamatan Pangenan bisa nggak laku karena kualitas garam tidak bagus, yakni Nacl di bawah 90an," katanya kepada Tribun.

Dia mengaku, hasil garam yang ada di Kabupaten Cirebon terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2018 saja, jumlahnya mencapai 483 ribu ton.

"Hingga saat ini jumlah petambak garam di Kabupaten Cirebon sekitar 3.000 orang," katanya.

Untuk mengantisipasi garam yang tidak laku itu, Dislakan akan mengadakan sosialosasi dan memberikan bantuan geomembran kepada para petambak.

"Geomembran ini bisa menghasilkan garam berkualitas di atas 94 persen," ujarnya. (*)

Penulis: Sitimasithoh
Editor: Muhamad Nandri Prilatama
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved