Breaking News:

PLT Bupati Cianjur Bersaksi dalam Kasus Pemerasan KPK Gadungan

Plt Bupati Cianjur Herman Suherman bersaksi atas kasus dugaan pemerasan dengan terdakwa Mus (72), di Pengadilan Negeri Cianjur

Tribun Jabar/Ferri Amiril
Plt Bupati Cianjur Herman Suherman 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Plt Bupati Cianjur Herman Suherman bersaksi atas kasus dugaan pemerasan dengan terdakwa Mus (72), di Pengadilan Negeri Cianjur, Rabu (12/6/2019).

Kasus ini mencuat karena beberapa waktu lalu pihak kepolisian mengamankan beberapa orang yang disebut-sebut dari tim KPK dan meminta atensi dengan asumsi sejumlah uang kepada Herman Suherman yang saat itu menjabat sebagai wakil bupati.

Herman Suherman yang merasa tertekan akhirnya mentransfer uang Rp 30 juta kepada nomor rekening terdakwa setelah didatangi sebanyak tiga kali.

Herman Suherman hadir sebagai saksi korban bersama tiga orang lainnya yang dihadirkan dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Warga Akui Belum Mendapat Bantuan Penanganan DBD dari Dinkes Kabupaten Cirebon

Dalam sidang yang dimulai sekitar pukul 12.00 WIB Herman menjelaskan awal bertemu dengan terdakwa dikenalkan oleh seorang warga Cianjur, RM.

"Saya kedatangan RM bersama dengan beberapa orang, menyampaikan tentang kondisi Cianjur dan akan ada operasi tangkap tangan, saya disebut juga masuk target operasi," ujar Herman Suherman dalam persidangan.

Setelah pertemuan pertama ada kejadian besar di Cianjur tentang OTT Bupati Cianjur.

Momen tersebut dimanfaatkan kembali oleh tim yang disebut -sebut atau mengaku dari KPK.

"Lalu RM mengabarkan lagi akan ada tim datang ke rumah, RM juga menyampaikan melalui pesan WA terkait 11 orang tim yang akan berangkat ke luar negeri dan meminta atensi," kata Herman.

Setelah pertemuan tanggal 15 Desember itu ada beberapa dari rekan RM yang bertanya apakah sudah dikirim atensi untuk tim.

Maruf Amin Mengaku Keturunan ke-14 Raja Sumedanglarang

"Saya minta sekretaris pribadi untuk mentransfer uang kepada rekening terdakwa," ujar Herman.

Kuasa Hukum Herman Suherman, Yudi Junadi, mengatakan kehadiran saksi korban memang sempat terkendala dan itu sudah disampaikan kepada pengadilan.

"Kami mohon maaf karena dua kali sidang tak hadir, dari pengacara sudah menjadwalkan kehadiran merupakan kewajiban warga negara agar sebuah perkara menjadi transparan," kata Yudi.

Menurut Yudi, kliennya memberikan uang karena kesal dan merasa tertekan berkali-kali didatangi oleh tim yang disebut-sebut dari KPK tapi ternyata tidak benar tersebut.

"Hari ini kami menghormati panggilan dan mengikuti agenda persidangan," katanya.(fam

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved