Miris, Mak Aan Nyaris Kehilangan Rumah Gara-gara Pinjam Dua Karung Beras

Mak Aan (60) warga Kabupaten Cianjur nyaris saja kehilangan rumahnya karena dua karung beras yang ia pinjam.

Tribun Jabar/Ferri Amiril
Tim Sedekah Lawan Rentenir 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Mak Aan (60) warga Kampung Haurwangi, Desa Haurwangi Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur nyaris saja kehilangan rumahnya karena dua karung beras yang ia pinjam. Ia terjerat hutang pada rentenir.

Mak Aan tak punya pilihan lain saat itu karena hanya bekerja sebagai buruh pabrik telur.

Rupanya, beras yang ia pinjam kian lama kian berkembang biak subur bunganya. Beranak dan berlipat ganda menjadi tak terduga. Beras senilai 400 ribu rupiah itu selama 2 tahun telah membengkak menjadi 8.5 juta.

Tak pernah ada kesepakatan tertulis antara Mak Aan dan si juragan peminjam uang.

Semua prosesi pinjam meminjam itu dilakukan atas dasar "tahu sama tahu", sayangnya Mak Aan terlalu polos dan lemah untuk tahu risiko berhutang pada si juragan.

Penderita Diabetes Wajib Baca Nih, Inilah Obat Murah tapi Ampuh Basmi Gula Darah dalam Tubuh

Waktu berjalan Mak Aan yang dinilai tidak mampu lagi membayar hutang dua karung beras yang beranak pinak bersama bunga-bunganya itu harus merelakan sertifikat rumahnya pada si juragan.

Mak Aan bukanlah korban pertama, warga di desa ini sebetulnya sudah paham betul perihal tragedi gusur-menggusur atau sita-menyita karena berhutang pada si juragan. Tapi, mau bagaimana lagi.

Kisah Mak Aan dan maraknya kasus renten yang menjerat masyarakat di pedesaan sampai ke telinga Sekolah Relawan.

Tim Sedekah Lawan Rentenir yang berfokus pada pendampingan korban renten pun segera melakukan penelusuran langsung ke desa tempat Mak Aan tinggal.

Cinta Ditolak, Usman Siram Anak Janda Idamannya Pakai Air Keras

Benar saja, bukan hanya Mak Aan korbannya. Sederet nama menjadi korban yang telah berhasil tumbang karena hutang atau malah bimbang berada diambang "penyitaan".

Kasus Mak Aan memang berakhir "bahagia", setelah Tim Sedekah Lawan Rentenir mendampingi mak melakukan negoisasi.

"Dengan proses yang berlangsung alot dan cukup panjang, sang renten bersedia mengembalikan sertifikat rumah Mak Aan. Dengan catatan Mak Aan tetap membayar sejumlah uang, padahal selama 2 tahun ini Mak Aan selalu membayarkan upah hasil berkuli tani secara rutin," ujar Wawan Darmawan perwakilan dari sekolah relawan.

Menurut Wawan, bukannya tanpa tantangan, upaya Sekolah Relawan untuk mendampingi dan memediasi korban dengan sang rentenir mengalami "perlawanan" dan "kecaman" dari sang rentenir.

Segala informasi yang dipublikasikan di sosial media berkaitan dengan kegiatan pendampingan kasus ini dikecam sebagai tindakan pencemaran. Padahal, hal itu merupakan salah satu upaya edukasi.

Banjir Setinggi 2 Meter, Warga Tolak Mengungsi

"Kami bertemu dengan warga lain yang juga memiliki hutang pada si juragan, beberapa tokoh masyarakat, tokoh pemerintahan dan tokoh agama pun ikut duduk melingkar bersama menyuarakan keresahan yang mereka alami," katanya.

Ia mengatakan bukan hanya satu atau dua rentenir, ada beberapa lembaga keuangan yang menamai diri sebagai koperasi dan bank keliling yang juga getol memberikan pinjaman uang pada masyarakat yang mayoritas adalah buruh tani.

Menurutnya dampaknya sudah bisa ditebak, nyaris semua masyarakat di kampung itu memiliki hutang. Baik pada bank keliling maupun rentenir.

Motif di balik kegiatan hutang berhutang juga beragam. Mulai dari kebutuhan dasar, permodalan usaha,cicilan kendaraan hingga strategi gali lubang tutup lubang.

Barbie Kumalasari Blak-blakan Soal Hubungan Intim dengan Suami, Mengaku Kewalahan, Begini Katanya

"Sungguh menyedihkan ketika masyarakat desa di perkampungan justru dimanfaatkan sebagai objek finansial yang tidak sehat. Kurangnya pemahaman serta akses edukasi membuat mereka begitu mudah "dikelabui" dan "diiming-imingi"," katanya.

Ia mengatakan ketiadaan akses permodalan pada lembaga alternatif keuangan yang merakyat dan pro umat dengan kemudahan syarat juga menjadi sebab mereka semakin mudah terjerat lintah darat.

Pendapatan ekonomi harian yang rendah tak berbanding lurus dengan kebutuhan dan gaya hidup yang semakin wah!

Ia mengatakan, gerakan Sedekah Lawan Rentenir yang diinisiasi oleh Sekolah Relawan tak hanya berfokus pada advokasi kasus masyarakat secara personal, tapi juga ingin berorientasi pada pengentasan persoalan renten secara radikal dan menyeluruh.

Usai Lebaran, Banyak Anggota DPR Tidak Ikut Rapat Paripurna

Karena ada banyak aspek yang saling mempengaruhi satu sama lain, di antaranya: aspek spiritual, aspek pendidikan, aspek sosial budaya dan aspek ekonomi itu sendiri.

KBR ingin berupaya menghidupkan pemahaman dan kesadaran kolektif masyarakat melalui proses edukasi, pelatihan keterampilan, dan pendampingan salah satunya melalui lembaga keuangan desa alternatif yang dikelola oleh masyarakat lokal dengan spirit ekonomi kerakyatan yang islami dan bebas riba.

"Kami percaya bahwa masyarakat membutuhkan edukasi dan pendampingan di lapangan. Mereka butuh sahabat untuk bisa berdaulat dan bebas dari lintah darat," katanya.

Selain penguatan  keterampilan untuk mengembangkan potensi lokal, masyarakat juga harus mengorganisir dan mengelola sendiri lembaga keuangan atau bank rakyat dengan sistem yang ramah,bebas riba dan berspiritkan nilai-nilai kearifan lokal.

Kampung Bebas Rentenir bukanlah sebuah konsep yang sederhana, dalam upaya untuk merintisnya, Sekolah Relawan tidak bisa bergerak sendirian.

Mantan Komandan Tim Mawar Laporkan Majalah Tempo ke Dewan Pers

Kolaborasi dan sinergitas dengan berbagai elemen akan sangat mendukung gerakan ini secara maasif dan progressif. (fam)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved