Seorang Dokter Kandungan, Bergelar Doktor, Dosen Pula, Sebar Berita Hoaks, Ya Ditangkap Polisi

siapapun yang membaca postingan miliknya akan menimbulkan kebencian dan amarah kepada institusi polri.

Tribun Jabar/Mega Nugraha
Direktur Ditreskrimsus Polda Jabar, Kombes Samudi, menyampaikan keterangan pers soal penangkapan terhadap penyebar berita hoaks dan ujaran kebencian, di Mapolda Jabar, Selasa (28/5). 

Laporan  Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - DS, seorang dokter kandungan dan dosen di Kota Bandung ditangkap petugas Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jabar karena terlibat penyebaran informasi bohong terkait kerusuhan 21-22 Mei.

"Kami menetapkan tersangka ujaran kebencian pria berinisial DS. Kebetulan DS ini seorang dokter ahli kebidanan dan seorang doktor S3, yang bersangkutan ini mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung," ujar Direktur Ditreskrimsus Polda Jabar, Kombes Samudi di Mapolda Jabar, Selasa (28/5).

‎DS memposting kalimat bernada ujaran kebencian di akun Facebook miliknya dengan akun Dodi Suardi yang isinya:

'Malam ini Allah memanggil hamba-hamba yang di kasihinya. Seorang remaja tanggung, menggenakan ikat pinggang berlogo osis, diantar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distetcher ambulans, tidak ada respon, nadi oun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tidak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orangtuannya. Korban tembak polisi seorang remaja 14 tahun tewas,'.

Sebar Hoaks Tentang Anggota Brimob dari Cina, Pria Asal Majalengka Ditangkap

HOAKS! 5.000 Santri Ponpes Buntet Ikut People Power di Jakarta

‎"Yang bersangkutan kami lakukan penangkapan karena di akun Facebooknya membuat berita berita bohong yang dapat menimbulkan keonaran yang berkaitan dengan kejadian di Jakarta 22 Mei kemarin. Ini di akun faceboknya yang bersangkutan itu menulis bahwa ada korban tembak polisi anak berusia 14 tahun tewas," ujar Samudi.

Menurut Samudi, postingan Ds di Facebook diketahui oleh pemilik akun lainnya. Akibatnya, kata Samudi,  siapapun yang membaca postingan miliknya akan menimbulkan kebencian dan amarah kepada institusi Polri.

"Kami sangat menyayangkan beliau ini seorang dokter dan pengajar seharusnya membantu pemerintah dan aparat keamanan dalam hal memberikan penyejukan pemahaman edukasi kepada masyarakat pengguna medsos," katanya.

Warga Cirebon Penyebar Berita Hoaks Ditangkap Polisi, Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara

Dibawa ke Polda Jabar, Warga Cirebon Penyebar Berita Hoaks Ini Minta Maaf dan Mengakui Perbuatannya

Kepada DS yang menurut akun Facebooknya tertulis Dodi Suardi, polisi menerapkan Pasal 14 ayat 1 dan Pasal 15 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Huku Pidana dan Pasal 207 KUH Pidana.

‎"Kepada yang bersangkutan tentunya karena membuat berita bohong yang dapat menimbulkan keonaran pasal yang kami terapkan. Yang bersangkutan ini selain mengajar di perguruan tinggi di bandung dan praktiknya di rumah sakit terkenal di bandung," ujar Samudi.  (*)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved