Warga Cirebon Penyebar Berita Hoaks Ditangkap Polisi, Terancam Hukuman 6 Tahun Penjara

tersangka seolah-olah menilai bahwa mekanisme penyelenggaraan Pemilu tidak sesuai aturan, memberikan opini yang salah dan diunggah, serta tidak berta

Tribun Jabar/Daniel Damanik
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, tersangka RGS (tengah), dan jajaran personel Ditreskrimsus Polda Jabar, Rabu (15/5/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Daniel Andreand Damanik

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - RGS (45) seorang pria yang mengaku sebagai simpatisan Capres RI 02, kembali ditangkap oleh jajaran Polres Cirebon dan diserahkan ke Polda Jabar karena kasus penyebaran berita bohong dan hoaks.

Pria yang berstatus sebagai seorang wiraswasta tersebut pada 20 April 2019 sekira pukul 13.00 WIB, mendatangi GOR Pamijah, Kabupaten Cirebon, tempat dilaksanakannya rapat rekapitulasi perolehan suara Pemilu 2019 tingkat Kecamatan Plumbon.

"Tersangka membuat sendiri (selfie) video berdurasi 45 detik yang dalam video tersebut ia mengatakan bahwa Rapat Pleno dilaksanakan tertutup, bahkan dia mengatakan saksi pun dipersulit untuk masuk," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, Rabu (15/5/2019) di Gedung Ditreskrimsus Polda Jabar.

Dalam video tersebut, RGS mengatakan " Hari ini Rapat pleno terbuka perhitungan C1 di PPK Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon, akan tetapi kami merasa aneh sekali rapat pleno ini tertutup masyarakat tidak boleh melihat bahkan para saksi pun dipersulit untuk masuk ha...ini enak-enakan nih petugas - petugas yang ada di dalam ini mau mengurangi, mau menambahi ini kita viralkan ini kami mohon bantuan dari saudara sekalian untuk memviralkan, salam akal sehat, salam 02 Prabowo Sandi menang Allahuakbar".

Video yang beredar di media sosial tersebut berjudul " VIRALKAN!!!... Rapat Pleno C1 Kec Plumbon Cirebob Brlngsung Tertutup Saksi Kubu 02 Dlrng Masuk".

Pria yang beralamat di Desa Kejuden, Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon tersebut memproduksi video tersebut tanpa bantuan orang lain, membagikan video tersebut di grup whatsapp sesama pendukung 02 dan akhirnya viral di Facebook dan Youtube.

Akibat perbuatannya, RGS melanggar pasal 45a ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) UU No 19 tahun 2016 tentang perubahan terhadap UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 14 ayat (1) dan pasal 15 UU No 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

"Hukuman penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp 2 miliar," kata Kabid Humas Polda Jabar.

Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan bahwa tersangka seolah-olah menilai bahwa mekanisme penyelenggaraan Pemilu tidak sesuai aturan, memberikan opini yang salah dan diunggah, serta tidak bertanya kepada pihak manapun sehingga adanya unsur tindak pidana.

Sebelumnya, Polda Jabar pun menerima pelimpahan kasus ujaran kebencian dan provokasi adu domba yang dilakukan Iwan Adi Sucipto, seorang ustaz pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Cirebon. Dalam videonya, Iwan mengadu domba antara TNI-Polri serta menyebutkan bahwa 22 Mei adalah hari lahir PKI.  (*)

Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved